skip to Main Content

15 Buku Startup dan Entrepreneurship Pilihan Tech in Asia Indonesia di Tahun 2017

Seperti di tahun 2016 lalu, kali ini kami kembali merekomendasikan belasan buku startup dan entrepreneurship pilihan yang terbit sepanjang 2017. Semoga dari buku-buku ini, ada yang menarik untuk kamu baca di masa libur akhir tahun.

Mayoritas buku-buku ini membahas tentang cerita di balik perkembangan startup dan perusahaan teknologi besar, seperti Uber, Airbnb, Apple, hingga Google. Beberapa yang lain justru fokus membahas tentang teknologi baru seperti mobil tanpa awak dan big data.

Sayangnya, tahun ini hampir tidak ada buku startup dan entrepreneurship yang diterbitkan oleh penulis Indonesia. Oleh karena itu, kami terpaksa memilih buku-buku yang ditulis oleh penulis asing. Semoga hal ini tidak mengurangi minat kamu untuk membacanya.

Berikut adalah daftar buku startup dan entrepreneurship pilihan Tech in Asia Indonesia.


The Upstarts: How Uber, Airbnb, and the Killer Companies of the New Silicon Valley Are Changing the World

The Upstarts | Cover

Bicara tentang konsep sharing economy, mungkin kita akan langsung memikirkan dua startup besar yang berasal dari Amerika Serikat, yaitu Uber dan Airbnb. Dan dalam buku berjudul The Upstarts ini, jurnalis Bloomberg Brad Stone berusaha menceritakan berbagai hal menarik yang bisa kamu pelajari dari sejarah pendirian kedua perusahaan tersebut.

Stone menceritakan bahwa founder Uber ternyata terinspirasi untuk membuat aplikasi tersebut setelah menonton film James Bond yang berjudul Casino Royale. Sedangkan para founder Airbnb pernah harus menjual sereal demi menjaga kelangsungan bisnis mereka.

The Upstarts merupakan istilah untuk para founder yang muda, pintar, dan penuh percaya diri. Mereka berusaha mengubah cara-cara konvensional demi memberikan kemudahan bagi para pengguna. Meski terkadang hal itu membuat mereka harus melewati batas etika dan aturan yang dibuat oleh perusahaan besar serta pemerintah.

Dapatkan buku The Upstarts di sini


The Airbnb Story: How Three Ordinary Guys Disrupted an Industry, Made Billions and Created Plenty of Controversy

The Airbnb Story

Berbeda dengan buku The Upstarts yang membahas tentang Uber, Airbnb, hingga startup transportasi online asal Cina Didi ChuxingThe Airbnb Story ini hanya menceritakan kisah trio founder Airbnb, yaitu Brian Chesky, Joe Gebbia, dan Nathan Blecharczyk. Buku ini merupakan buah karya seorang editor dari Fortune, Leigh Gallagher.

Gallagher mengisahkan bagaimana layanan berbagi tempat tinggal tersebut menghadapi banyak sekali tantangan sejak awal berdiri. Mulai dari kesulitan mencari investor, persaingan dari Rocket Internet, hingga rintangan terkait aturan pemerintah yang melarang operasional mereka di berbagai kota. Beruntung, sejauh ini mereka tampak berhasil melewati semua hambatan tersebut.

Hal yang paling menarik dari buku ini adalah kesimpulan Gallagher bahwa kunci sukses Airbnb sebenarnya adalah kecocokan kepribadian dari ketiga founder. Jiwa kepemimpinan Chesky, sikap perfeksionis Gebbia, dan pola pikir bisnis yang dimiliki sang CTO Blecharczyk, seperti menjadi sebuah kesatuan yang benar-benar sempurna.

Dapatkan buku The Airbnb Story di sini


Wild Ride: Inside Uber’s Quest for World Domination

Wild Ride

Sebelum terkenal sebagai CEO dari startup transportasi online Uber, Travis Kalanick merupakan entrepreneur yang gigih, namun sering sembarangan dalam berbicara. Tapi layaknya tokoh Silicon Valley yang lain, seperti Steve Jobs dan Elon Musk, ia selalu mencari inovasi-inovasi baru yang bisa dilakukan. Hal itulah yang kemudian mendorongnya membangun Uber.

Selama beberapa tahun terakhir, Kalanick terus berusaha mengembangkan Uber dengan agresif dan tanpa henti. Hal ini tetap ia lakukan meski harus berhadapan dengan para pemerintah, perusahaan taksi konvensional, hingga kontroversi tentang eksploitasi pengemudi, di berbagai negara.

Dalam buku startup berjudul Wild Ride ini, jurnalis veteran Adam Lashinsky mencoba menggali motivasi dan ambisi dari Travis Kalanick ketika mendirikan dan membangun Uber. Bermodal wawancara eksklusif dengan Kalanick dan beberapa sumber yang mengetahui kisah perkembangan Uber, Lashinsky berusaha mencari tahu bagaimana kisah kegagalan Uber di Cina. Selain itu, ia pun mencoba memahami perselisihan Uber dengan Google, Tesla, Lyft, dan GM, terkait teknologi mobil tanpa awak.

Uber memang telah sukses menjadi pusat perhatian dengan valuasi perusahaan yang besar dan ekspansi yang luas ke seluruh dunia. Namun buku ini justru berusaha menjelaskan bagaimana Uber bisa menjadi sebesar sekarang, dan apa rencana mereka di masa depan.

Ingin membaca buku Wild Ride ini? Buka tautan berikut


Move Fast and Break Things: How Facebook, Google, and Amazon Cornered Culture and Undermined Democracy

Move Fast and Break Things 1

Sejak awal 2000-an, banyak bisnis hiburan di dunia yang kini telah didominasi oleh tiga perusahaan internet raksasa, yaitu Google, Facebook, dan Amazon. Mereka menguasai mulai dari musik, film, tayangan televisi, hingga berita.

Sebagai gambaran, sejak tahun 2001, pendapatan surat kabar dan musik turun sekitar tujuh puluh persen di Amerika Serikat. Hal ini pun diikuti oleh penurunan keuntungan yang diterima penerbit buku, pembuat film, dan stasiun televisi. Sebaliknya, pendapatan Google dalam periode yang sama justru naik dari US$400 juta (sekitar Rp5,4 triliun) menjadi US$74,5 miliar (sekitar Rp1.000 triliun).

YouTube, platform video yang dimiliki Google, kini mengontrol enam puluh persen bisnis audio streaming dengan hanya membagi sebelas persen pendapatan yang mereka terima kepada para pembuat musik.

Itulah mengapa, dalam buku startup bertajuk Move Fast and Break Things ini, Jonathan Taplin berusaha mengupas bagaimana para perusahaan internet besar tersebut melakukan hal tersebut. Ia pun memberikan saran apa yang bisa dilakukan para pembuat konten hiburan, seperti berita dan musik, untuk bisa tetap bertahan di tengah gempuran para perusahaan raksasa tersebut.

Buku Move Fast and Break Things ini bisa kamu dapatkan di tautan berikut


Valley of the Gods: A Silicon Valley Story

Valley of The Gods

Satu lagi buku startup tentang kisah di balik layar dari pusat ekosistem startup dunia, Silicon Valley. Kali ini giliran seorang jurnalis bernama Alexandra Wolfe yang mengungkap cerita-cerita menarik tersebut dalam buku Valley of The Gods.

Dalam buku ini, Wolfe menceritakan bagaimana para founder di Silicon Valley rutin pergi ke pusat kebugaran agar tubuh mereka tetap sehat, bagaimana mereka mendatangi pesta yang penuh dengan hidangan sushi, hingga bagaimana mereka berkencan satu sama lain. Wolfe juga menunjukkan perbedaan pemikiran mereka dalam membangun startup, dengan pola pikir mereka ketika kuliah.

Dapatkan buku Valley of The Gods di sini


Hit Refresh

Hit Refresh | Cover

Seperti tak mau kalah dengan CEO perusahaan teknologi lain yang telah membuat buku, CEO Microsoft Satya Nadella pun turut menulis buku yang berjudul Hit Refresh. Buku tersebut menceritakan tentang bagaimana Nadella melakukan perubahan budaya di perusahaan yang didirikan oleh Bill Gates tersebut.

Tak hanya itu, Nadella juga turut mengisahkan pengalaman pribadi dirinya, baik sebagai pimpinan dari Microsoft, ataupun sebagai manusia yang kini harus menghadapi gelombang perubahan yang besar. Menurutnya, di zaman yang penuh perubahan seperti sekarang, manusia justru harus menunjukkan kualitas dan empati mereka terhadap sesama.

Tertarik untuk membaca buku Hit Refresh? Kamu bisa membelinya di sini


The Four: The Hidden DNA of Amazon, Apple, Facebook, and Google

The Four | Cover

Saat ini, ada empat perusahaan teknologi raksasa di dunia, yaitu Amazon, Apple, Facebook, dan Google. Sadar atau tidak, keempat perusahaan tersebut telah “mencengkeram” kehidupan manusia, hingga hampir mustahil bagi kita untuk menghindar dari pengaruh mereka.

Bagaimana mereka melakukan itu? Dan apa yang kita bisa pelajari dari strategi mereka? Hal inilah yang coba dijawab oleh seorang pengamat dunia teknologi yang bernama Scott Galloway dalam buku startup berjudul The Four ini. Buku ini sangat cocok bagi kamu yang ingin berkompetisi dengan keempat raksasa teknologi dunia tersebut, menjalin kemitraan dengan mereka, atau sekedar ingin hidup dengan nyaman di bawah naungan mereka.

Buku The Four ini bisa kamu dapatkan di tautan berikut


Technically Wrong: Sexist Apps, Biased Algorithms, and Other Threats of Toxic Tech

Technically Wrong | Cover

Buku ini adalah sebuah penjelasan tentang sisi lain dari teknologi yang kita nikmati sekarang. Ketika mendaftar sebuah layanan online, pernahkah kamu merasa bahwa formulir pendaftaran tersebut sama sekali tidak ramah kepada orang-orang yang tidak heteroseksual, atau mungkin ada kesulitan bagi orang kulit hitam untuk mendapatkan pasangan di situs kencan.

Sara Wachter Boettcher berusaha mengupas segala hal tersebut dalam buku Technically Wrong ini, serta menjelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi. Ia berharap buku ini bisa membuka wawasan kita, agar bisa menyadari hal-hal yang salah tersebut, atau bahkan mungkin menuntut sang penyedia layanan untuk berubah.

Dapatkan buku Technically Wrong di sini


Everybody Lies: Big Data, New Data, and What the Internet Can Tell Us About Who We Really Are

Everybody Lies | Cover

Setiap harinya, hasil pencarian manusia di internet bisa menghasilkan data yang besarnya sekitar delapan triliun gigabyte. Informasi yang sangat banyak tersebut bisa menyajikan informasi tentang banyak hal, mulai dari ketakutan, keinginan, hingga hal-hal yang bisa mendorong kita untuk membeli sesuatu.

Dalam buku ini, Seth Stephens Davidowitz berusaha memanfaatkan data yang sangat besar tersebut untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan unik, seperti berapa orang kulit putih yang tidak memilih Barack Obama? Orang tua lebih menyukai anak laki-laki atau anak perempuan? Atau pertanyaan mengenai seberapa besar pengaruh film laga terhadap pertumbuhan kejahatan?

Dengan analisis terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti itu, buku Everybody Lies ini berusaha mengajak kita untuk memahami kehidupan dengan cara yang berbeda.

Ingin mendapatkan buku Everybody Lies ini? Kunjungi tautan berikut


Hit Makers: The Science of Popularity in an Age of Distraction

Hit Makers | Cover

Seorang editor senior dari The Atlantic bernama Derek Thompson berusaha mengupas tentang bagaimana hal-hal terkenal bisa begitu menyita perhatian masyarakat. Ia pun menyajikan beberapa contoh, mulai dari cerita vampir, Mickey Mouse, Facebook, hingga Game of Thrones.

Menurut Thompson, para pembuat film, musik, software, dan konten, kini menggunakan strategi yang berbeda dibanding yang digunakan para seniman di masa lalu. Dan lewat buku ini, ia berusaha membuka wawasan kita tentang apa yang sebenarnya diinginkan masyarakat saat ini, dan bagaimana sebuah produk bisa begitu diminati.

Dapatkan buku Hit Makers di sini


Irresistible: The Rise of Addictive Technology and the Business of Keeping Us Hooked

Irresistible | Cover

Di zaman sekarang, banyak dari kita yang menghabiskan banyak waktu untuk membuka email, memeriksa feed di Instagram dan Facebook, hingga menonton video di YouTube. Dan mayoritas hal tersebut kita lakukan melalui perangkat smartphone.

Dalam buku ini, seorang profesor di bidang psikologi dan pemasaran yang bernama Adam Alter berusaha menjelaskan mengapa kita seperti tidak bisa lepas dari smartphone. Menurutnya, para produsen smartphone memang telah membuat produk mereka sedemikian rupa agar begitu menarik perhatian masyarakat.

Karena itu, Alter pun mempunyai sebuah strategi yang memungkinkan kita untuk memanfaatkan ketergantungan kita kepada smartphone menjadi hal-hal yang baik. Ia pun menjelaskan bagaimana kita bisa mencegah munculnya efek negatif dari penggunaan smartphone kepada anak-anak.

Tertarik untuk membaca buku Irresistible ini? Dapatkan di sini


Tribe of Mentors: Short Life Advice from the Best in the World

Tribe of Mentors | Cover

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang punya pengetahuan yang sempurna. Karena itulah kita membutuhkan mentor atau guru yang bisa mengajarkan berbagai hal yang tidak kita ketahui. Sayangnya, banyak di antara kita yang tidak mempunyai akses untuk bertemu dengan para guru tersebut.

Itulah mengapa Timothy Ferriss membuat buku Tribe of Mentors ini. Ia seperti ingin menjembatani kita dengan para mentor seperti Maria Sharapova, Tony Hawk, co-founder Facebook Dustin Moskovitz, Arianna Huffington, hingga aktor Ben Stiller. Dalam buku ini, para tokoh terkenal tersebut membagikan kisah sukses mereka, yang diharapkan bisa bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya.

Buku Tribe of Mentors ini bisa kamu dapatkan di tautan berikut


The Startup Way: Making Entrepreneurship a Fundamental Discipline of Every Enterprise

The Startup Way | Cover

Sukses dengan buku The Lean Startup, entrepreneur terkenal Eric Ries kembali lagi dengan buku startup baru yang bertajuk The Startup Way. Berbeda dengan buku sebelumnya yang lebih fokus pada startup tahap awal, kini Ries justru fokus untuk mengantarkan startup yang telah berkembang agar bisa tumbuh lebih besar.

Ia pun menyajikan analisisnya terhadap perusahaan besar seperti General Electric, Toyota, serta para startup raksasa seperti Amazon, Facebook, hingga Airbnb, dan Twilio.

Tertarik dengan buku The Startup Way ini? Kamu bisa dapatkan di tautan berikut


The Driver in the Driverless Car: How Our Technology Choices Will Create the Future

Driver in Driverless Car | Cover

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) saat ini sudah begitu mencengangkan. Sebuah komputer telah berhasil mengalahkan manusia yang merupakan juara dunia Go, sebuah permainan yang lebih sulit dibanding catur. Beberapa kecerdasan buatan lain pun telah berhasil membuat komposisi musik, hingga menulis novel.

Namun di balik segala keuntungan yang mereka hadirkan, teknologi baru tersebut juga mempunyai efek negatif, mulai dari berkurangnya peluang kerja, hilangnya privasi, serta ketimpangan ekonomi. Hal inilah yang coba diungkap Vivek Wadhwa dalam buku startup ini.

Wadhwa seperti mengajak kita semua untuk terus mempertanyakan teknologi baru tersebut, agar kita bisa mengendalikannya, bukan justru kita yang dikendalikan oleh mereka.

Dapatkan buku The Driver in The Driverless Car ini di sini


Doughnut Economics: Seven Ways to Think Like a 21st-Century Economist

Doughnut Economics

 

Dalam buku Doughnut Economics ini, seorang akademisi Oxford yang bernama Kate Raworth berusaha menunjukkan bagaimana sistem ekonomi yang berjalan sekarang membuat banyak orang terus berada di jurang kemiskinan. Sementara itu, di saat yang sama, beberapa orang justru mendapat kekayaan yang terus berlipat ganda setiap tahunnya.

Raworth pun menjelaskan tujuh hal utama yang menyebabkan ketidakadilan tersebut. Itulah mengapa ia kemudian menawarkan sebuah konsep baru yang diharapkan bisa membuat kesetaraan bagi semua orang.

Tertarik untuk membaca buku Doughnut Economics ini? Dapatkan di tautan berikut

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post 15 Buku Startup dan Entrepreneurship Pilihan Tech in Asia Indonesia di Tahun 2017 appeared first on Tech in Asia.

The post 15 Buku Startup dan Entrepreneurship Pilihan Tech in Asia Indonesia di Tahun 2017 appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi

Back To Top