3 Cara Industri Teknologi dan Pemerintah Mempersiapkan Tenaga Kerja Masa Depan

Artikel ini ditulis bersama Vincent Tjendra, Associate Vice President of Product di Tokopedia.

Pada Agustus 2018, Vincent dan saya pergi ke Cordoba, Argentina, untuk mewakili Indonesia sebagai delegasi resmi pemuda Indonesia pada konferensi Y20 Summit tahun 2018.

Vincent, yang menjadi Associate Vice President of Product di Tokopedia, adalah ketua delegasi Indonesia. Saya sendiri adalah seorang mahasiswi S3 di University of Warwick.

Saya meriset tentang suara dan tindakan kolektif pekerja informal di era digital. Sebelumnya, saya bekerja dengan tim kebijakan global di Uber, perusahaan jasa transportasi online asal Amerika Serikat. Saya menangani keterlibatan dan kemitraan dengan pemerintah Indonesia.

Dengan latar belakang teknologi dan minat pada isu-isu seputar masa depan pekerjaan, kami merasa bangga bisa mewakili pemuda Indonesia dan berkontribusi pada keragaman perspektif di konferensi itu.

Berikut beberapa wawasan yang kami dapatkan di sana.

Merangkul perubahan teknologi dan meningkatkan daya saing

Suka atau tidak, perubahan tidak bisa dihindari. Baik di Indonesia maupun di luar negeri pada Y20 Summit, kami menemukan bahwa diskusi seputar masa depan pekerjaan sering kali dibumbui rasa takut akan kemungkinan kehilangan pekerjaan. Kekhawatiran akan masalah-masalah tenaga kerja lainnya terkait dengan otomatisasi, perampingan, dan restrukturisasi tenaga kerja juga muncul.

Sebagai perwakilan pemuda dan profesional di bidang teknologi, kami tahu kekhawatiran itu bukanlah alat ukur yang pas untuk menakar potensi ataupun merupakan dasar baik untuk pembuatan kebijakan. Saat mempertimbangkan kebijakan-kebijakan terkait teknologi baru, kami yakin bahwa negara-negara yang fokus mengadopsi teknologi sejak awal akan mendapatkan manfaat yang lebih besar.

Pelajaran yang kami petik di Argentina menunjukkan pemerintah dan industri teknologi dapat bekerja bersama membangun tiga fondasi untuk memanfaatkan potensi sumber daya manusia, antara lain pendidikan, kesinambungan, dan keterlibatan.

Pendidikan: menyiapkan tenaga kerja untuk permintaan di masa mendatang

Sejarah menunjukkan bahwa teknologi-teknologi baru tak hanya bisa menggantikan beberapa pekerjaan, tetapi juga menciptakan pekerjaan baru. Dalam suatu artikel, dermawan Melinda Gates menulis bahwa pengenalan aplikasi spreadsheet pada 1980 mengakibatkan hilangnya 400.000 pekerjaan akuntansi di AS.

Tetapi ini juga menyebabkan munculnya 600.000 pekerjaan layanan pelanggan. Sama seperti hal itu, teknologi-teknologi baru seperti kegiatan ekonomi berbasis platform, e-commerce, dan kecerdasan buatan (AI) bisa menciptakan peluang-peluang ekonomi baru bagi para pekerja.

Di Indonesia, kami sudah melihat pergeseran menuju kewirausahaan dan pekerja mandiri. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia menunjukkan ada peningkatan jumlah pengusaha sebesar 17,6 persen di seluruh negeri, dari 22,7 juta pada 2006 menjadi 26,7 juta pada 2016.

Pada 2016, BPS menyatakan kegiatan ekonomi berbasis platform telah membantu mengurangi pengangguran di daerah perkotaan. Kehadiran platform menawarkan peluang penghasilan tambahan yang sebelumnya tidak bisa didapatkan pekerja.

Peluang-peluang alternatif ini menunjukkan bahwa kita dapat membantu mempersiapkan tenaga kerja masa depan untuk memanfaatkan teknologi. Perlu ada rencana transisi sehingga talenta dapat mengisi besarnya kesenjangan keterampilan.

Di konferensi tersebut, kami merekomendasikan agar para pemerintah negara-negara G20 memasukkan pendidikan lintas budaya dan keberagaman identitas, termasuk keterampilan sosial dan interpersonal, dalam kurikulum nasional masing-masing.

Para pemimpin negara-negara G20 menegaskan kembali pentingnya soft skill dan kemampuan beradaptasi, menyoroti pentingnya “belajar untuk belajar,” keterampilan digital yang relevan, dan perspektif pembelajaran seumur hidup sejak usia dini.

Singkatnya, ini bisa diartikan menjadi reformasi kurikulum, ketersediaan alat pembelajaran online, dan kegiatan sekolah untuk anak-anak yang mendorong pembangunan empati dan kesadaran yang lebih besar akan dunia di sekitar mereka. Kami juga merekomendasikan agar pemerintah memberikan insentif untuk mengajarkan keahlian-keahlian baru pada karyawan. Solusi ini juga diakui pemerintah negara-negara G20.

Karena tuntutan industri, sektor swasta menjadi yang paling unggul dalam meningkatkan keterampilan pekerja. Sementara itu, peran pemerintah adalah mendorong perusahaan untuk melatih ulang karyawan daripada mengganti mereka.

Rekomendasi lain yang kami berikan terkait wirausaha dan perlindungan sosial. Risiko karena ketiadaan hubungan atasan dengan karyawan dalam berbagai praktik kerja menunjukkan pentingnya menegaskan kembali status hukum pekerja individu dan merancang model perlindungan sosial baru bagi mereka, terutama di negara-negara berkembang G20.

Kesinambungan: Memberdayakan wirausaha untuk memanfaatkan teknologi

Ditambah upaya untuk mengatasi masalah struktural di level kebijakan, teknologi akan membantu kita memecahkan masalah-masalah utama. Mulai dari pendidikan hingga kesehatan dan pekerjaan, yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Perusahaan teknologi Indonesia seperti Ruangguru (penyedia pendidikan online yang menghubungkan siswa dengan tutor dan guru) dan GO-JEK (unicorn pertama dari Indonesia dan penggerak ekonomi informal) adalah beberapa contoh bagaimana teknologi dapat menghasilkan manfaat bagi masyarakat dalam skala besar.

E-commerce juga telah menyetarakan level pasar untuk bisnis kecil. Menurut Tokopedia, 70 persen dari 4 juta pedagang di platformnya adalah wirausahawan baru yang menunggangi gelombang e-commerce Indonesia.

Untuk sebuah negara yang tersebar luas seperti Indonesia, memaksimalkan manfaat digital akan mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah serta memberikan peluang masuknya pasar bagi pengusaha yang tidak mereka dapat sebelumnya.

Banyak rekomendasi dalam deklarasi final Y20 Summit berkaitan dengan merancang kebijakan untuk membantu ekosistem wirausaha yang berdampak dan memungkinkan perkembangan teknologi. Khususnya, kebijakan yang memacu investasi pada perusahaan sosial yang inovatif dan menciptakan insentif bagi sebagian besar perusahaan berlaba besar untuk mendukung startup lokal secara finansial di negara tempat mereka beroperasi.

Keterlibatan: Membangun teknologi untuk semua orang

The World Economic Forum berpendapat bahwa kegelisahan berinvestasi di pasar ceruk (niche market) dan berisiko tinggi adalah alasan mengapa beberapa teknologi tidak menjangkau komunitas tertentu. Meski itu mungkin sebagian benar, kami ingin menambahkan bahwa beberapa teknologi belum menjangkau seluruh komponen masyarakat, karena tidak semua orang yang dapat mengambil manfaat dari teknologi itu ikut dalam pembuatannya.

Salah satu cara untuk mencapai teknologi yang inklusif adalah dengan menyediakan akses ke pendidikan terkait, sehingga kita dapat memiliki lebih banyak perwakilan orang dari berbagai latar belakang di lapangan.

Meski tidak mengabaikan pentingnya kelompok lain, kami berfokus pada perempuan dan meningkatnya partisipasi mereka dalam ekonomi. Para pemimpin negara-negara G20 juga menggarisbawahi pentingnya pendidikan bagi anak perempuan.

The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menemukan bahwa secara signifikan wanita lebih berpeluang kecil untuk mempelajari ilmu pengetahuan, termasuk teknik serta teknologi informasi dan komunikasi (ICT).

Menurut laporan OECD, keterwakilan perempuan yang kecil dalam bidang ini dapat ditelusuri ke harapan karier terkait gender, yang kondisinya sudah berbeda jauh bahkan sebelum anak perempuan menginjak usia 15 tahun.

Lebih lanjut, temuan ini menunjukkan bahwa sistem pendukung karier, seperti keluarga dan guru, berperan penting dalam meneruskan stereotip berbasis gender. Mereka juga berusaha mencegah anak perempuan untuk mengejar karir di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).

Sejalan dengan itu, kami mendukung pengembangan program pendidikan berbasis ilmu pengetahuan untuk masyarakat. Biayanya terjangkau, atau gratis, untuk anak-anak, dengan fokus khusus pada anak perempuan.

Salah satu program tersebut adalah Generation Girl, di mana Vincent sebelumnya adalah penasihat di sana. Generation Girl adalah organisasi nirlaba berbasis di Jakarta, yang bertujuan untuk memperkenalkan anak perempuan berusia 12-16 tahun ke bidang STEM melalui program pelatihan selama liburan yang memberikan pengalaman mendalam.

Pada Desember 2018, program ini membawa 30 siswa dalam perjalanan satu minggu di kelas pengembangan web dan kegiatan interaktif lain, termasuk mengunjungi kantor Tokopedia.

Mendapatkan ilmu pengetahuan sejak dini akan memungkinkan anak-anak menjadi lebih percaya diri dalam mengeksplorasi minat mereka saat mereka tumbuh. Jika dikembangkan dan diskalakan dengan benar, program-program seperti Generation Girl dapat memungkinkan gadis-gadis muda untuk bebas bereksperimen, berlatih membuat program sendiri, terhubung dengan mentor wanita, menjelajahi jalur karier STEM, dan akhirnya menghancurkan stereotip.

Kami sangat percaya bahwa pertumbuhan hanya dapat didorong dengan memberdayakan semua segmen ekonomi.

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Sari Rachmatika sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post 3 Cara Industri Teknologi dan Pemerintah Mempersiapkan Tenaga Kerja Masa Depan appeared first on Tech in Asia.

The post 3 Cara Industri Teknologi dan Pemerintah Mempersiapkan Tenaga Kerja Masa Depan appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi