Berawal dari Ide di Bangku Kuliah, Situs Pemrograman Ini Berhasil Gaet 200 Ribu Pengguna


Founder: Masanori Kato
Industri: situs belajar pemrograman (edtech)
Status pendanaan: meraih pendanaan seri A

  • Progate sendiri menyediakan pelajaran pertama untuk setiap bahasa pemrograman secara gratis. Namun untuk pelajaran kedua dan seterusnya, mereka menetapkan biaya berlangganan.
  • Demi melancarkan ekspansinya, situs belajar pemrograman asal Jepang ini menggandeng sekolah, universitas, hingga lembaga kursus pemrograman di tanah air untuk bekerja sama.

button ulasan startup


Pada tanggal 23 Oktober 2017 ini, situs belajar pemrograman asal Jepang bernama Progate mengumumkan bahwa mereka telah meluncurkan situs khusus untuk para pengguna di luar Jepang. Kini mereka tengah fokus menggaet pengguna di Indonesia, India, Singapura, Malaysia, dan Filipina.

Hal ini mereka lakukan setelah mendapat pendanaan Seri A sebesar US$800 ribu (sekitar Rp10,8 miliar) yang dipimpin oleh FreakOut Group dan DeNA pada awal tahun 2017 ini. Investasi ini melengkapi pendanaan tahap awal (seed funding) sebesar US$270 ribu (sekitar Rp3,6 miliar) yang mereka terima dari East Ventures1 dan beberapa angel investor di bulan Oktober 2015.

Demi bisa berhasil dalam ekspansi ini, Progate sadar bahwa mereka harus bekerja sama dengan mitra lokal. Karena itu, mereka pun berniat menggandeng sekolah, universitas, hingga lembaga kursus pemrograman di tanah air untuk bekerja sama.

“Di Jepang, kami tidak punya banyak kompetitor. Layanan kami menyebar lewat word of mouth. Karena itu kami bisa fokus mengembangkan produk dan tidak melakukan banyak aktivitas pemasaran. Namun untuk bisa diterima oleh pengguna di negara lain, kami jelas harus melakukan hal yang berbeda,” jelas perwakilan Progate kepada Tech in Asia Indonesia.

Berawal dari ide di bangku kuliah

Progate | Founder

Masanori Kato, founder dari Progate

Progate sendiri didirikan pada tahun 2014 silam oleh Masanori Kato dan beberapa rekannya. Saat itu mereka masih merupakan mahasiswa di Universitas Tokyo, dan seperti kebanyakan mahasiswa lain, mereka ingin langsung bekerja di perusahaan besar setelah lulus. Namun niat tersebut berubah setelah mereka mengenal dunia pemrograman.

“Setelah belajar pemrograman, kami bisa membangun situs, layanan, hingga perusahaan apa pun yang kami mau. Karena ini merupakan pengalaman yang menakjubkan bagi kami, maka kami pun ingin memudahkan orang lain untuk mempelajarinya. Namun pada saat itu, tidak banyak layanan online yang nyaman digunakan oleh para pemula,” jelas Kato.

Masyarakat di Indonesia sendiri sebenarnya sudah bisa memanfaatkan situs belajar pemrograman lain, seperti Codecademy dan Coderbyte. Namun menurut Progate, layanan mereka lebih mudah digunakan karena bisa menunjukkan ilustrasi logika di balik setiap pelajaran yang diajarkan.

Selain itu, pelajaran yang diberikan pun langsung bisa digunakan untuk membuat produk tertentu, sehingga pengguna bisa memahami untuk apa mereka mempelajari langkah-langkah pemrograman tersebut. Saat ini, kamu bisa mempelajari berbagai bahasa pemrograman di Progate, mulai dari HTML, CSS, JavaScript, jQuery, Ruby, Command Line, Ruby on Rails, hingga Git.

Progate sendiri menyediakan pelajaran pertama untuk setiap bahasa pemrograman secara gratis. Namun untuk pelajaran kedua dan seterusnya, mereka menetapkan biaya berlangganan. Skema ini sudah diterapkan di Jepang, dan baru akan diterapkan untuk pengguna di luar Jepang pada bulan Januari 2018 nanti.

Dari sekitar 200 ribu pengguna yang dimiliki Progate di negara asal mereka, empat persen (sekitar delapan ribu orang) merupakan pengguna berbayar. Menarik untuk ditunggu bagaimana perkembangan layanan ini di tanah air nantinya.


  1. Keterangan: East Ventures juga menanamkan investasi di Tech in Asia. Baca halaman etika kami untuk informasi lebih lanjut.

(Diedit oleh Septa Mellina; Sumber gambar: Lynda)

The post Berawal dari Ide di Bangku Kuliah, Situs Pemrograman Ini Berhasil Gaet 200 Ribu Pengguna appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi