Bukupedia, Toko Buku Online Berusia 10 Tahun yang Mulai Mengejar Ketertinggalan


Ikhtisar
  • Demi bersaing dengan para pemain lain, Bukupedia pun telah membuat platform online khusus untuk para penerbit yang bernama Bukupedia Merchant Center.
  • Lewat platform ini, para penerbit bisa mengelola buku yang mereka jual di Bukupedia dengan lebih mudah.
  • Tahun ini Bukupedia pun terbuka terhadap pendanaan eksternal seiring dengan perkembangan e-commerce yang kian pesat.

Sejak tahun 1999, seorang entrepreneur asal Sumatera Utara yang bernama Darwin Tjoe telah memulai bisnis di bidang digital dengan perusahaan yang bernama Bisnis Visi 2030. Lewat perusahaan tersebut, ia pun membuat beberapa bisnis di bidang pembayaran, pembuatan toko online instan, serta membuat sebuah toko buku online dengan nama Bookoopedia pada tahun 2007.

“Pada saat itu, saya merasa sulit mencari buku terutama di kota-kota kecil di luar pulau Jawa,” ujar Darwin kepada Tech in Asia Indonesia.

Darwin menceritakan bahwa pada saat ia mendirikan Bookoopedia, bisnis e-commerce dan startup belum terlalu populer seperti sekarang. Ia pun berusaha mengembangkan bisnis tersebut dengan uangnya sendiri, meski ternyata bisnis tersebut tidak memberikan hasil seperti yang ia harapkan.

“Saat itu tim kami kesulitan untuk fokus mengerjakan beberapa produk, dengan sumber daya yang terbatas. Akhirnya, kami memutuskan untuk menutup produk-produk kami yang lain, dan fokus mengembangkan Bookoopedia,” tutur Darwin.

Sebagai bagian dari fokus tersebut, Darwin pun mengganti nama situs toko buku online tersebut menjadi Bukupedia pada tahun 2015. Ia pun merombak tampilan situs, serta lebih aktif menjalankan promosi di media sosial. Hasilnya, mereka berhasil mendapatkan Gold Award untuk kategori Toko Buku Online pada ajang Indonesia E-Commerce Award 2016.

Mulai membuka diri terhadap pendanaan eksternal

Bukupedia | Screenshot

Saat ini, Bukupedia mengaku bisa menerima 350 transaksi dalam sebulan, dengan total omzet mencapai Rp200 juta. Dari situ, Bukupedia bisa mendapatkan keuntungan sekitar 20 persen. Mereka kini mempunyai sekitar sembilan anggota tim yang mayoritas bekerja di bagian operasional.

Seperti toko buku online yang lain, Bukupedia tidak hanya menjual buku fisik yang umum dijual. Mereka juga memungkinkan kamu untuk memesan buku-buku yang sudah tidak dicetak (print on demand), serta buku impor dari sembilan negara.

“Saat ini nilai penjualan terbesar ada di buku impor, namun kami tetap berusaha untuk mencapai tujuan awal kami yaitu mengembangkan penjualan buku lokal,” jelas Darwin. 

Sejak berdiri, Bukupedia mengaku belum pernah mendapat pendanaan dari pihak luar. Menurut Darwin, saat itu ia punya idealisme yang tinggi bahwa mereka bisa mengembangkan perusahaan tersebut sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, ia melihat bahwa bisnis e-commerce ini telah tumbuh dengan sangat cepat. Masyarakat Indonesia sudah semakin terbiasa dengan aktivitas belanja di dunia maya. Dan menurutnya, Bukupedia pun harus mulai membuka diri terhadap pendanaan eksternal di tahun 2018 ini bila tidak mau tertinggal dengan pemain lain.

Gramedia masih menguasai bisnis penjualan buku di tanah air

Buku | Ilustrasi 3

Bisnis toko buku online di tanah air sendiri telah dipadati oleh beberapa pemain besar, seperti Gramedia.com, MizanStore, BukuKita, serta BukaBuku. Namun tantangan terbesar dari para pemain online tersebut menurut Darwin adalah bagaimana mereka bisa bersaing dengan toko buku offline seperti Gramedia yang masih menguasai sekitar 61 persen pasar buku umum di Indonesia.

“Karena pesaing kami adalah produk offline, maka yang perlu kami lakukan adalah fokus pada kemudahan dan kenyamanan pengguna. Contohnya dengan memudahkan proses pencarian buku, menyediakan katalog yang lengkap, menghadirkan review buku, promo menarik, serta kenyamanan proses pembelian,” terang Darwin.

Demi bersaing dengan para pemain lain, Bukupedia pun telah membuat platform online khusus untuk para penerbit yang bernama Bukupedia Merchant Center. Lewat platform yang diluncurkan pada tanggal 30 Januari 2018 tersebut, para penerbit bisa mengelola buku yang mereka jual di Bukupedia dengan lebih mudah.

Secara umum, Darwin melihat pasar penjualan buku di Indonesia masih cukup potensial. Ia mengisahkan perbincangannya dengan para rekan penerbit, dan mereka menyatakan bahwa penjualan mereka cenderung masih meningkat, meski peningkatannya tidak terlalu besar.

(Diedit oleh Septa Mellina; Sumber gambar: Pexels)

This post Bukupedia, Toko Buku Online Berusia 10 Tahun yang Mulai Mengejar Ketertinggalan appeared first on Tech in Asia.

The post Bukupedia, Toko Buku Online Berusia 10 Tahun yang Mulai Mengejar Ketertinggalan appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi