Jala – Startup Monitor Tambak Udang Buatan Lulusan Universitas Gadjah Mada


Founder: Raynalfie Rahardjo, Syauqy Nurul Aziz, Hanry Ario, Farid Inawan
Industri: platform untuk memonitor tambak udang
Status pendanaan: bootstrapping

  • Dengan alat bernama Blumbangreksa dan platform monitor Jala, mereka berusaha membantu para penambak udang mengatasi masalah pemantauan kondisi tambak yang krusial.
  • Platform Jala juga bisa memberikan saran kepada penambak melalui smartphone masing-masing terkait tindakan yang perlu dilakukan sesuai dengan kondisi tambak.

Menjalani profesi sebagai penambak udang sejak 2001 membuat Aryo Wiryawan tahu betul tentang berbagai masalah yang ada di bisnis tersebut. Salah satu masalah yang menjadi perhatiannya adalah terkait memonitor kualitas air tambak, yang sebenarnya merupakan kunci keberhasilan sebuah tambak udang.

Masalah tersebut kemudian mempertemukan Aryo dengan sebuah tim dari jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada, yaitu Raynalfie Budhy Rahardjo, Syauqy Nurul Aziz, Liris Maduningtyas, Farid Inawan, serta Hanry Ario. Mereka memutuskan untuk membuat sebuah alat yang bisa memonitor kualitas air di sebuah tambak secara real time.

Pada tahun 2015, mereka akhirnya berhasil menciptakan sebuah alat yang bernama Blumbangreksa. Alat tersebut bahkan berhasil membawa mereka memenangkan kompetisi ASME (The American Society of Mechanical Engineers) dan masuk program inkubasi Inotek. Dari berbagai kompetisi tersebut, mereka berhasil mendapat dana hibah (grant) sebesar Rp600 juta.

Baru pada bulan Desember 2015, mereka mulai membangun tim inti dari startup yang sekarang bernama Jala.

Telah digunakan sepuluh penambak

Jala | Screenshot

Produk utama dari Jala adalah platform pengawasan kondisi tambak, dengan menggunakan Blumbangreksa sebagai perangkat utama. Lewat alat tersebut, para penambak bisa mengukur tingkat keasaman (pH), salinitas, suhu, hingga kandungan oksigen terlarut (DO) dalam air.

Berbagai parameter tersebut diolah dengan mempertimbangkan lokasi tambak dan waktu budidaya. Para penambak bisa melihat hasil analisis langsung lewat smartphone masing-masing, lengkap dengan saran tindakan yang perlu mereka lakukan.

Jala pun menghadirkan platform yang bisa membantu para penambak mengatur keuangan dan manajemen tambak mereka sehari-hari. Berbagai solusi teknologi tersebut bisa dinikmati dengan membayar biaya berlangganan setiap bulan.

“Saat ini, Jala sudah dimanfaatkan di sekitar enam puluh kolam milik sepuluh penambak udang yang tersebar di Bantul, Purworejo, Tegal, Brebes, Cilacap, serta Subang. Selain itu, Jala juga banyak dimanfaatkan oleh para peneliti untuk menganalisis karakteristik air,” tutur Liris kepada Tech in Asia Indonesia.

Sejauh ini, Jala masih menjalankan operasional secara bootstrapping dengan delapan orang tim. Mayoritas dari mereka merupakan engineer dan marketing.

Masih harus mengandalkan Cina

Jala | Foto Perangkat

Perangkat yang digunakan untuk mengukur kualitas air tambak

Meski solusi mereka telah digunakan di beberapa tempat, Jala mengaku bahwa mereka masih mengalami hambatan dalam hal pembuatan alat monitor. Menurut Jala, produsen di Indonesia belum begitu mendukung, sehingga untuk membuat alat monitor secara massal mereka harus mengandalkan produsen asal Cina.

“Saat ini kami telah berhasil menjadi salah satu startup yang terpilih untuk program Brinc Hardware Accelerator Program di Hong Kong. Dan diharapkan dari situ kami bisa mengembangkan Design for Manufacture (DFM) untuk produk kami,” jelas Liris.

Selain itu, Liris juga mengemukakan masalah terkait edukasi untuk para penambak. Namun untuk itu, mereka telah mendapat dukungan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang akan membantu dalam melakukan sosialisasi keuntungan penggunaan Jala kepada para penambak.

Saat ini belum banyak startup tanah air yang bisa memberikan solusi seperti yang dihadirkan Jala. Mereka justru harus bersaing dengan perangkat monitor kualitas air yang diproduksi oleh perusahaan asal luar negeri.

“Namun kami lebih unggul dalam hal pendampingan yang khusus untuk budidaya udang. Ke depannya, kami juga akan membangun sistem kecerdesan buatan agar bisa memberikan saran tindakan yang lebih kompleks untuk para penambak,” pungkas Liris.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

The post Jala – Startup Monitor Tambak Udang Buatan Lulusan Universitas Gadjah Mada appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi