skip to Main Content

[Opini] Mengapa Saya Tidak Berinvestasi di Bisnis Kecerdasan Buatan (AI)

Tahun lalu, perusahaan-perusahaan pengembang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mendapatkan lebih dari US$10,8 miliar (sekitar Rp145 triliun) dari sejumlah perusahaan modal ventura (VC), seperti perusahaan saya. AI punya kemampuan untuk membuat pengambilan keputusan yang lebih cerdas. Teknologi ini dapat membantu pengusaha dan inovator menciptakan produk bernilai tinggi bagi pelanggan. Jadi, mengapa saya tidak fokus untuk berinvestasi pada AI?

Selama tren AI pada berlangsung di 1980-an, bidang ini mendapatkan banyak perhatian diiringi dengan pertumbuhan investasi yang cepat. Daripada mempertimbangkan nilai yang ditawarkan oleh masing-masing startup, para investor lebih memilih mencari teknologi yang menarik untuk dibiayai. Inilah mengapa sebagian besar perusahaan generasi pertama yang berbasis AI telah menghilang. Perusahaan seperti Symbolics, Intellicorp, dan Gensym kini telah bertransformasi atau mati.

Dan sekarang, hampir 40 tahun kemudian, kita menghadapi masalah yang sama.

Meski teknologi jauh lebih canggih sekarang, satu kebenaran mendasar tetap sama: AI tidak secara intrinsik menciptakan nilai pada konsumen. Inilah mengapa saya tidak berinvestasi dalam AI atau “deep tech” lainnya.

Masalah dalam berinvestasi pada vertikal AI

Sejak tahun 2000, terdapat peningkatan hingga enam kali lipat pendanaan dari VC di bidang AI. Begitu pun dengan pertumbuhan startup di bidang ini yang turut tumbuh hingga empat belas kali lipat dalam rentang waktu yang sama.

Tapi kemampuan dari AI kerap kali dijanjikan secara berlebihan. Bidang yang menjadi target dari startup AI pun kurang memiliki dampak besar.  Apa kita benar-benar membutuhkan halaman WordPress yang dibuat oleh AI?

Dengan berfokus pada teknologi, lini vertikal dari bidang deep tech (seperti startup yang hanya menggunakan teknologi AI atau blockchain) mengabaikan sisi komersial yang paling penting dari sebuah startup, yaitu:

  • Masalah apa yang mereka coba selesaikan?
  • Nilai apa yang ingin mereka ciptakan?

Banyak startup yang terjebak di tren ini.

Dengan mengusung “Penjahit AI,” Original Stitch mengklaim dapat menyediakan baju yang pas dengan ukuran pelanggan hanya dengan menggunakan data hasil analisis dari software computer-vision. Software ini menganalisis foto yang diunggah pelanggan ke situs web perusahaan. Mereka juga berhasil mendapatkan dana investasi hingga US$5 juta (sekitar Rp73 miliar) dari berbagai perusahaan investasi besar.

Sayangnya, baju-baju hasil produksi teknologi AI mereka banyak yang tidak pas, seperti terlalu ketat atau lengannya terlalu panjang. Akhirnya, perusahaan harus meminta pelanggan mengirimkan ukuran baju mereka.

Saya percaya bahwa, suatu hari, baju-baju kita akan lebih baik jika dikerjakan oleh mesin. Saya tidak mempermasalahkan dengan atau tanpa menggunakan teknologi AI, yang saya pedulikan adalah apakah pakaian saya ukurannya pas. Meski perkembangan dan terobosan di bidang AI terus bermunculan, sistem AI masih jauh dari kata sempurna.

Jika suatu startup tidak bisa menciptakan nilai dengan menggunakan deep tech atau teknologi signifikan lainnya, produk yang mereka ciptakan bisa jadi tidak diperlukan.

Itulah mengapa saya memilih berinvestasi pada perusahaan yang memanfaatkan AI untuk memberikan nilai mendalam bagi pelanggan mereka.

Bukti di masa depan: Fokus pada penciptaan nilai

Saat ini, menyebut perusahaanmu sebagai startup berbasis AI adalah cara paling cepat untuk menunjukkan bahwa kamu berpikiran maju, dan punya perusahaan yang berkelanjutan secara komersial. Namun menjadi “perusahaan masa depan” bukan berarti harus mempunyai teknologi futuristik. Faktanya, memiliki model bisnis baik disertai dengan teknologi sehari-hari yang sederhana ternyata bisa lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.

Perhatikan tujuh perusahaan paling kaya di dunia: Apple, Amazon, Alphabet, Microsoft, Facebook, Alibaba, dan Tencent. Sekarang, perusahaan-perusahaan ini sedang melakukan penelitian di bidang AI dan software deep tech lainnya, tapi kebanyakan mereka tidak memulai bisnis sebagai perusahaan deep tech. Malahan, mereka mencoba menyelesaikan masalah dengan menggunakan teknologi yang “dangkal.”

Alibaba dan Amazon adalah platform e-commere, serta Tencent (WeChat) adalah sistem chatting berbasis internet. Semuanya kini melakukan investasi besar-besaran dalam bidang penelitian untuk memperoleh teknologi baru yang akan membantu mereka melakukan ekspansi. Apa yang dapat kamu simpulkan dari informasi tersebut?

Ketika kamu ingin berinvestasi pada suatu perusahaan, jangan hanya fokus pada deep tech. Sebaliknya, carilah nilai berharga lain. Jika deep tech dibutuhkan atau menjadi berharga, teknologi itu juga akan muncul pada waktunya.

Seorang investor yang mencari perusahaan deep tech tidak akan berinvestasi pada Facebook lima belas tahun lalu. Facebook adalah jaringan sosial yang dibangun dengan PHP, bahasa pemrograman sederhana yang digunakan untuk membangun lebih dari setengah situs web.

Namun seiring berjalannya waktu, perusahaan ini juga menciptakan produk dengan teknologi canggih. Mereka memanfaatkan inovasi untuk memperluas nilai serta menciptakan produk yang lebih baik, hal ini dilakukan untuk memberikan nilai mendalam bagi pelanggannya.

Cerita serupa juga dapat ditemukan di kawasan Asia Tenggara, seperti pada dengan Grab dan GO-JEK yang terinspirasi dari Uber dan Lyft. Sekarang, mereka termasuk perusahaan paling bernilai di kawasan ini.

Deep tech akan menjadi standar di masa depan

Interact Kata.ai|Image

Berinvestasi pada deep tech juga menimbulkan masalah lain: teknologi yang terlihat canggih pada masa kini akan menjadi teknologi standar di masa depan.

Belum lama ini, kehadiran teknologi baru seperti situs web dan layar resolusi tinggi adalah hal baru yang dianggap menarik secara teknis. Namun sekarang, teknologi ini ada di mana-mana dan tersedia secara universal.

Kita berada di kondisi yang sama dengan teknologi deep tech. Bitcoin dan cryptocurrency, sel surya generasi berikutnya, roket yang dapat didaur ulang oleh SpaceX, semua itu adalah teknologi fungsional yang pasti akan menjadi komponen standar nantinya.

Contohnya ketika saya mengelola Interwoven, perusahaan yang bergerak di bidang software manajemen konten. Selama bertahun-tahun kami membicarakan tentang betapa pentingnya XML. Sistem manajemen dokumen berbasis XML kami, TeamXML, dirilis pada tahun 2001 dan diberhentikan pada tahun 2007.

Sekarang, tidak ada perusahaan yang hanya mengandalkan XML. Meski banyak perusahaan masih menggunakannya, tapi XML tidak menjadi pusat dari infrastruktur mereka.

Ketika berinvestasi, saya memikirkan masa depan, ke mana saya ingin bisnis ini berjalan, dan nilai apa yang saya percayai dapat tercipta. Baru kemudian, saya mempertimbangkan apakah AI dan deep tech diperlukan untuk menciptakan nilai pada masa depan.

Hal ini bukan saja tentang apakah kamu tertarik pada AI, tapi apakah kamu sedang menciptakan nilai yang tahan lama.

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Fairuz Rana Ulfah sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post [Opini] Mengapa Saya Tidak Berinvestasi di Bisnis Kecerdasan Buatan (AI) appeared first on Tech in Asia.

The post [Opini] Mengapa Saya Tidak Berinvestasi di Bisnis Kecerdasan Buatan (AI) appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi

Back To Top