PayAccess – Aplikasi Pembayaran Digital dari Malang dengan Puluhan Ribu Pengguna

Founder: Hendro Santoso (CEO); Rorian Pratyaksa (CBDO)
Industri: solusi pembayaran digital (fintech)
Status Pendanaan: Seri A senilai tujuh digit dolar (lebih dari Rp13 miliar)

  • PayAccess berkembang dengan menggaet anak-anak muda dan beragam komunitas di Kota Malang sebagai agen perubahan.
  • Para pengguna bisa melakukan beragam transaksi nontunai, seperti pembayaran di merchant, isi pulsa seluler, hingga transfer antarpengguna.

 


Pengalaman di dunia perbankan dan investasi membuat Hendro Santoso bisa melihat potensi dari perangkat digital seperti smartphone sebagai alat untuk mendorong perkembangan ekonomi. Itulah mengapa mantan direktur di kantor akuntan publik PricewaterhouseCoopers (PwC) tersebut kemudian mempunyai ide untuk membuat sebuah alat pembayaran digital yang bisa membuat transaksi keuangan menjadi lebih efisien.

Pada tahun 2014, ia bekerja sama dengan mantan Analyst di PwC yang bernama Rorian Pratyaksa. Mereka berdua membuat sebuah aplikasi pembayaran digital yang bernama PayAccess. Aplikasi tersebut dilengkapi dengan berbagai fitur, mulai dari isi saldo (top up) dompet virtual, transfer ke sesama pengguna (P2P transfer), hingga pembayaran merchant dengan memindai kode QR.

Mencoba melakukan validasi terhadap produk yang telah mereka buat, Rorian pun membawa PayAccess untuk berkompetisi di International Harvard Project for Asian and International Relations (HPAIR) di Manila pada tahun 2015 serta Australia Awards pada tahun 2016. Hasilnya, PayAccess berhasil mendapat penghargaan di kedua ajang tersebut.

Tak berhenti sampai di situ, produk mereka ternyata juga mengundang perhatian dari beberapa investor yang hadir. Seorang angel investor akhirnya berkenan untuk memberikan pendanaan tahap awal (seed funding) demi membantu PayAccess dalam pengembangan produk, serta untuk mendapatkan pengguna awal.

Saat ini, PayAccess mengaku telah mempunyai sekitar 415.000 pengguna terdaftar, dengan jumlah pengguna aktif bulanan (MAU) yang mencapai angka 57.500 orang meski baru beroperasi di kota Malang. Setiap bulannya, mereka bisa memproses sekitar 28.000 transaksi. Perkembangan yang cukup pesat ini kemudian mengantarkan mereka untuk mendapatkan pendanaan Seri A di pertengahan tahun 2017 ini.

Pertanyaannya, bagaimana PayAccess berhasil meraih semua prestasi tersebut?

PayAccess Team

Founder PayAccess: Hendro Santoso (duduk, kanan) dan Rorian Pratyaksa (duduk, kiri)

Anak muda Malang jadi kunci

Menurut Rorian, salah satu kunci sukses PayAccess adalah karena mereka sejak awal melakukan penetrasi melalui komunitas yang beranggotakan para anak muda. Selain itu, mereka pun mengawali bisnis di kota dengan jumlah pesaing yang cukup minim, namun mempunyai jumlah anak muda yang cukup banyak, yaitu Malang.

Mereka mulai hadir di Malang sejak tahun 2016 dengan menghadirkan aplikasi pembayaran khusus untuk komunitas-komunitas tertentu. Beberapa komunitas yang mereka gandeng adalah pendukung klub sepak bola Arema FC, serta komunitas mahasiswa Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang.

“PayAccess percaya komunitas dan anak muda merupakan agen perubahan (agent of change) terbaik, yang bisa membawa perubahan terhadap kebiasaan atau gaya hidup yang telah ada sebelumnya,” ujar Rorian kepada Tech in Asia Indonesia.

Di awal pengembangannya, Rorian mengaku kalau ia sempat menghadapi tantangan yang cukup besar. Masyarakat di kota Malang, termasuk para pemilik UKM, masih cenderung nyaman untuk menggunakan uang tunai dalam melakukan transaksi.

Namun seiring berjalannya waktu, para anak muda dan mahasiswa yang telah mereka gaet pun menjadi terbiasa dengan berbagai fitur yang tersedia. Mereka mulai mengisi saldo di para merchant yang bekerja sama dengan PayAccess, melakukan pembelian pulsa, pembayaran tagihan listrik, hingga membeli merchandise dan tiket pertandingan sepak bola lewat aplikasi tersebut.

PayAccess Transaksi 2

Mengenalkan transaksi lewat Scan QR Code

Tak puas dengan layanan yang ada, pengguna PayAccess pun meminta agar platform tersebut juga bisa digunakan untuk melakukan pembayaran di warung-warung tempat mereka makan dan berkumpul. Itulah mengapa pada bulan Februari 2017 yang lalu, PayAccess mulai meluncurkan fitur pembayaran di lokasi-lokasi tersebut dengan teknologi Scan QR Code.

“Tak hanya itu, para pengguna kami pun coba mengarahkan setiap merchant yang berada di sekitar lokasi tempat tinggal dan kuliah mereka, agar dapat menerima PayAccess sebagai alat pembayaran,” tutur Rorian.

Untuk melakukan pembayaran, para pengguna hanya perlu memindai kode QR yang tertempel di sebuah warung. Begitu transaksi terjadi, sang pemilik warung akan menerima notifikasi melalui SMS. Di waktu yang sama, saldo sang pengguna pun akan langsung berpindah ke saldo sang pemilik warung.

Berkat teknologi tersebut, banyak merchant yang merasa nyaman karena waktu transaksi yang semakin cepat, dan mereka pun tak lagi direpotkan dengan uang kembalian. Di titik tersebut, menurut Rorian, jumlah pengguna dan merchant akhirnya tumbuh secara beriringan.

Menurut pihak PayAccess, teknologi mereka telah digunakan di 977 merchant, yang terdiri atas warung makan, tempat fotokopi, tempat olahraga, hingga laundry kiloan. Karena digunakan di merchant yang relatif kecil, rata-rata transaksi yang terjadi pun tidak terlalu besar, hanya sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000.

Fitur Scan QR Code pun menjadi layanan yang paling banyak digunakan di PayAccess, mengungguli layanan pembayaran digital seperti pembelian pulsa dan voucer game, serta transaksi transfer antarpengguna. Untuk menjaga legalitas operasionalnya, PayAccess kini telah mendapat lisensi transfer dana (remittance) dari Bank Indonesia.

PayAccess | Screenshot

PayAccess telah dapat pendanaan Seri A

Di pertengahan tahun 2017 ini, PayAccess baru saja mendapatkan pendanaan Seri A sebesar tujuh digit dolar Amerika Serikat (lebih dari Rp13 miliar) yang berasal dari sebuah lembaga investasi di Singapura dan grup bisnis hospitality di Indonesia. Dana tersebut rencananya akan mereka gunakan untuk mengembangkan jumlah pengguna, menambah jumlah tim, serta membuat fitur-fitur baru.

Sejauh ini, PayAccess telah memiliki tim inti sebanyak 31 orang; 17 di bagian bisnis, serta 14 orang di bagian pengembangan produk dan operasional. Dana segar tersebut pun akan mereka gunakan untuk berekspansi ke luar kota Malang. Namun untuk saat ini, mereka belum akan masuk ke kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.

“Pengembangan jaringan kami mengikuti dua hal, yaitu kota yang transaksinya masih didominasi uang tunai, serta kota yang memiliki persentase jumlah anak muda yang tinggi. Hal ini guna memudahkan kami dalam melakukan duplikasi pembentukan jaringan pengguna dan merchant,” jelas Rorian.


Di Indonesia sendiri, telah ada beberapa layanan yang menghadirkan layanan serupa dengan PayAccess, seperti Dimo Pay. Dalam waktu dekat, para pengguna GO-JEK juga bisa menggunakan GO-PAY untuk melakukan pembayaran di berbagai merchant.

Menarik untuk ditunggu bagaimana PayAccess bisa terus mengembangkan pasar, karena para pesaingnya tersebut kini juga sudah mulai melirik pasar di kota-kota selain kota besar.

Source : https://id.techinasia.com/payaccess-aplikasi-pembayaran-malang