skip to Main Content

Peluang Kolaborasi Startup Pertanian di Indonesia pada Tahun 2018


Ikhtisar
  • Pendekatan serta edukasi tentang teknologi baru serta peningkatan kualitas hasil tani menjadi beberapa tantangan yang masih akan dihadapi para pelaku startup pertanian guna mengembangkan industri.
  • Variasi jenis layanan di antara para startup pertanian membuka peluang lebar untuk kolaborasi, di mana usaha para pelakunya bisa saling melengkapi dan tumbuh bersama.

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada Februari 2017, ada 39,68 juta penduduk Indonesia yang bekerja di sektor pertanian. Jumlah tersebut lebih besar dari sektor-sektor bisnis lainnya.

Besarnya potensi di bidang pertanian mendorong kemunculan beberapa startup ataupun aplikasi yang fokus pada pengembangkan bisnis di bidang ini. Tak cuma mendapat produk berkualitas, startup dan aplikasi ini bisa membantu para pihak terkait untuk mendapat informasi soal harga produk pertanian. Di sisi lain, startup dan aplikasi pertanian ini juga bisa menjadi sumber informasi bagi petani mengenai cara bercocok tanam, solusi masalah pertanian, dan sebagainya.

Sepanjang tahun 2017, startup yang fokus pada bidang pertanian mulai terbagi dalam beberapa model, antara lain:

Meski begitu, para pelaku startup pertanian menemui tantangan yang hampir serupa ketika menjalankan bisnisnya sepanjang tahun 2017. Apa saja tantangan itu dan bagaimana potensinya di tahun 2018? Berikut penjelasannya.


Menerima inovasi teknologi

Penerapan teknologi pertanian | Ilustrasi

Sumber gambar: scmp.com

Hal ini merupakan tantangan yang kerap ditemui para pelaku startup di bidang pertanian. Menurut Business Development Crowde, Heri Siswanto, pihaknya membutuhkan waktu untuk meyakinkan petani dengan inovasi teknologi yang mereka bawa. Waktu yang dibutuhkan untuk meyakinkan para petani ini pun bervariasi, tergantung dari tingkat pengetahuan mereka.

Level paling rendah membutuhkan waktu satu sampai tiga bulan agar bisa menyesuaikan diri dengan teknologi. Kalau yang paling cepat bisa satu minggu sampai dua minggu.

Heri Siswanto,
Business Development Crowde

Untuk menjawab tantangan ini, Crowde memiliki program bernama PEJUANG (Petani Juara Andalan Gue), yang bertujuan mempersiapkan petani agar bisa menerima inovasi teknologi sekaligus meningkatkan kualitas. Selain itu, program ini juga memiliki tujuan transformasi petani dari petani buruh menjadi Agropreneur.

Hampir senada, Johannes Dwi Cahyo Kristanto selaku Founder & CTO PanenID mengatakan tantangan utama yang dihadapi pihaknya selama tahun 2017 yakni ketika berusaha meyakinkan para petani. Melakukan pendekatan ke mitra petani, kata Johannes, membutuhkan proses panjang dan maintenance yang cukup berat. “Karena mereka berpikir sangat sederhana. Tugas kami adalah bagaimana memenuhi ekspektasi mereka,” jelasnya.

Durasi proses pendekatan yang dilakukan PanenID kepada para petani pun bervariasi. Menurut Johannes, ada yang cukup satu atau dua bulan, namun ada juga yang membutuhkan waktu hingga satu tahun.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Johannes menuturkan pihaknya selalu berusaha menjalin proses kemitraan yang jelas dengan para petani. Seperti menjalani kontrak dengan baik dan memenuhi kewajiban-kewajibannya.

Edukasi peningkatan kualitas

Ilustrasi petani

Memperkenalkan teknologi kepada para petani tentunya bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi oleh startup pertanian. CMO sekaligus Co-founder TaniFund, William Setiawan, mengungkapkan kendala yang dihadapi pihaknya selama tahun 2017 masih berkaitan dengan edukasi peningkatan kualitas produk pada petani lokal.

William menjelaskan edukasi yang dilakukan pihaknya bertujuan untuk meningkatkan kualitas petani agar mampu melakukan penanaman hingga pemanenan sesuai standar yang lebih profesional, termasuk melakukan penyortiran produk yang lebih baik. “Karena akan berdampak terhadap kepercayaan para pengguna kami, baik TaniFund ataupun TaniHub,” kata William.

Menurutnya, para petani membutuhkan edukasi peningkatan kualitas produk karena sebagian besar dari mereka hanya belajar bertani secara turun temurun atau autodidak. Sedangkan untuk menjangkau pasar yang lebih luas, petani harus mampu menghasilkan produk yang lebih berkualitas.

“Petani yang berkualitas mulai kami fasilitasi agar dapat menjangkau pasar ekspor. Pastinya sejalan dengan misi pemerintah agar produk lokal bisa dikenal masyarakat luar. Kami ingin petani Indonesia bisa memiliki kualitas produk yang baik juga,” ujarnya.

Adapun selain masalah peningkatan kualitas, William menilai isu terkait teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas para petani juga akan menjadi tantangan yang dihadapinya pada tahun 2018. Menurutnya, teknologi bidang pertanian di Indonesia saat ini masih kurang berkembang dan infrastruktur di daerah pedesaan pun masih sangat kurang.

Kalau untuk TaniHub, tantangan tahun depan adalah bagaimana menjangkau pemilik bisnis makanan lebih banyak lagi, dan bagaimana membangun supply chain yang lebih efisien.

William Setiawan,
Co-founder Tanihub
Penggunaan drone untuk pertanian | Ilustrasi

Sumber gambar: technologyreview.com

Peluang startup pertanian di tahun 2018

Seperti yang telah disebutkan di atas, startup bidang pertanian mulai terbagi dalam beberapa model. Variasi bentuk startup pertanian membuka peluang bisnis yang cukup lebar pada 2018, terutama dalam hal kerja sama.

Seperti yang dikatakan oleh Johannes, PanenID saat ini sedang melakukan penjajakan terkait kolaborasi dengan startup pertanian lain. Meski tak menyebut nama, Johannes mengungkapkan PanenID ingin bekerja sama dengan startup yang bergerak dalam bentuk urban farming dan precision agriculture.

Urban farming untuk membantu supply. Produk yang segar bisa ditanam di area perkotaan. Precision agriculture untuk deployment sensor pengamatan keadaan tanah. Yang sudah jalan sekarang dengan startup e-commerce pertanian. Kami terkadang kelebihan barang yang tak bisa diserap oleh konsumen horeca, jadi kami lempar ke teman startup yang retail e-commerce,” jelasnya.

Johannes menambahkan, tantangan pada 2018 nanti yakni bagaimana mengintegrasikan berbagai solusi untuk pertanian dalam bentuk startup agar bisa berkolaborasi dengan baik satu dengan lainnya.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Peluang Kolaborasi Startup Pertanian di Indonesia pada Tahun 2018 appeared first on Tech in Asia.

The post Peluang Kolaborasi Startup Pertanian di Indonesia pada Tahun 2018 appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi

Back To Top