Raih Pendanaan Rp1,3 Triliun, Startup Logistik Lalamove Siap Masuki Pasar Indonesia


Ikhtisar
  • Investasi ini dipimpin oleh Shunwei Capital, perusahaan investasi yang didirikan oleh bos Xiaomi Lei Jun.
  • Lalamove menyatakan bahwa dana segar ini akan mereka gunakan untuk berekspansi ke Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. Mereka juga berniat untuk merekrut lebih banyak karyawan dan meluncurkan fitur-fitur baru.

Pada tanggal 11 Oktober 2017 ini, startup logistik asal Hong Kong Lalamove mengumumkan bahwa mereka telah mendapat pendanaan Seri C sebesar US$100 juta (sekitar Rp1,35 triliun). Investasi ini dipimpin oleh Shunwei Capital, perusahaan investasi yang didirikan oleh bos Xiaomi Lei Jun. Investor mereka sebelumnya, seperti Xiang He Capital dan MindWorks Ventures, juga turut berpartisipasi dalam pendanaan ini.

Investasi ini didapat Lalamove hanya berselang sembilan bulan setelah mereka mendapat pendanaan Seri B senilai US$30 juta (sekitar Rp405 miliar). Hal ini membuat total pendanaan yang telah mereka terima kini mencapai US$160 juta (Rp2,1 triliun), menjadikan Lalamove sebagai salah satu startup logistik dengan pendanaan terbesar di Asia Tenggara.

Menariknya, Lalamove menyatakan bahwa dana segar ini akan mereka gunakan untuk berekspansi ke Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. Mereka juga berniat untuk merekrut lebih banyak karyawan dan meluncurkan fitur-fitur baru.

“Kami mencari kota-kota dengan jumlah penduduk yang banyak dan daerah yang luas. Dengan begitu, mereka akan membutuhkan layanan logistik yang lebih baik,” jelas sang CEO, Shing Chow.

Saat ini, Lalamove telah hadir di seratus kota, yang mayoritas berada di Cina, di mana mereka hadir dengan nama Huolala. Selain itu, mereka juga telah meluncurkan layanan di Singapura, Bangkok, Manila, Taipei, dan tentu saja Hong Kong.

Tidak ingin tergantung pada pendanaan

Lalamove CEO Shing Chow

CEO Lalamove, Shing Chow

Lalamove sendiri didirikan oleh Chow pada tahun 2013. Terinspirasi oleh Uber, Chow berusaha menghadirkan layanan yang memungkinkan pemilik UKM untuk memesan van atau truk untuk mengantar barang ke para pembeli (last mile). Saat ini, mereka telah mempunyai lebih dari dua juta mitra pengemudi, dan lima belas juta pengguna terdaftar.

Chow sendiri yakin dengan potensi logistik yang bisa mencapai angka US$1,7 triliun (sekitar Rp22,9 kuadriliun) di Cina. Sedangkan di Asia Tenggara, industri logistik bernilai lima belas persen dari total ekonomi di wilayah ini. Dan menurut Chow, startup yang ia bangun kini telah berhasil meraih keuntungan di beberapa kota tertentu.

“Hal termudah yang bisa dilakukan startup adalah menghambur-hamburkan uang demi membuktikan bahwa mereka telah sampai pada tahap Product Market Fit. Mereka hanya bisa memvalidasi produk apabila ada investor yang memberi mereka pendanaan. Sedangkan (kami berbeda), prioritas utama kami adalah meraih keuntungan, sehingga kami secara default bisa hidup, bukan mati. Kami tidak ingin tergantung pada suntikan dana dari pihak luar untuk bisa bertahan,” jelas Chow.

Menurut Lalamove, mereka bisa meraih keuntungan tersebut berkat kualitas layanan yang mereka berikan, serta jenis konsumen yang mereka layani. Para pemilik UKM, yang menjadi target mereka, cenderung lebih memilih layanan yang mempunyai rekam jejak dan performa yang baik dibanding layanan yang memberikan diskon. Hal ini berbeda dengan konsumen individu yang mudah berpaling karena promo.

Blake Larson, Head of International dari Lalamove, juga pernah menyampaikan bahwa mereka berusaha keras untuk menjaga jumlah karyawan mereka agar tetap ramping. Saat ini mereka hanya mempunyai 1500 karyawan di seratus kota. Dan ia pun tidak tertarik untuk mengikuti “perang diskon” yang membuat ratusan layanan serupa di Cina kemudian bangkrut.

“Saat ini hanya dua layanan saja yang bertahan,” ujar Larson, merujuk pada pesaing mereka asal Cina yang bernama Wuba.

Bila nanti hadir di Indonesia, Lalamove pun akan bersaing dengan GO-BOX, Deliveree, NinjaXpress, hingga Trucktobee. Menarik untuk ditunggu seperti apa geliat persaingan tersebut di tanah air.

(Diedit oleh Septa Mellina)

The post Raih Pendanaan Rp1,3 Triliun, Startup Logistik Lalamove Siap Masuki Pasar Indonesia appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi