Sajikan Konten Lokal, TADOtv Ingin Jadi Platform Video Interaktif Terbesar di Indonesia

Pada 22 Januari 2019 lalu, platform pemutar video interaktif TADOtv menerima pendanaan tahap awal (seed funding) dari Insignia Ventures Partners bersama segelintir investor lain, seperti Merah Putih, Prasetia Dwidharma, Benson Capital, Stellar Kapital dan Everhaus.

Investasi dengan jumlah dana yang tidak disebutkan itu menandai babak baru bagi startup asal Jakarta tersebut. TADO pada awalnya dikenal sebagai platform tanya jawab ala ASKfm yang memungkinkan kamu bertanya kepada selebritas dan tokoh terkenal.

Melalui perbincangan singkat dengan Steven Koesno, CEO TADO (TADOtv), saya menggali apa pengalaman yang dipetik founder dari produk mereka sebelumnya, alasan pergantian fokus bisnis, peluang, dan bagaimana rencana TADOtv ke depan.

Menjemput bola bernama productmarket fit

Product/market Fit | Featured Image

Di awal perbincangan, Steven menjelaskan bahwa sebetulnya operasional layanan TADO masih berjalan berdampingan dengan pengembangan TADOtv yang mulai diperkenalkan secara resmi pada Januari 2019. Ini artinya, layanan TADO sendiri masih berjalan, meski fokus para pendirinya saat ini lebih banyak pada pengembangan TADOtv yang dinilai lebih potensial.

Steven mengatakan pertumbuhan TADOtv cukup signifikan di minggu kedua peluncuran aplikasinya. Ia mengklaim bahwa dalam kurun waktu dua pekan, TADOtv telah diunduh 65.000 orang dengan akumulasi penonton konten mencapai 1,4 juta pemirsa.

Respons tersebut jauh lebih baik dibanding peluncuran aplikasi mereka sebelumnya. Terlebih lagi, pencapaian ini mereka peroleh tanpa melibatkan bujet pemasaran yang besar.

Kami melihat ada peluang product-market fit yang jauh lebih besar di sini. Apalagi orang-orang juga banyak yang stay ke dalam aplikasi ini.

Steven Koesno,
CEO TADO

Pertahankan retensi dengan konten berkualitas

Faktor retensi diakui Steven sebagai permasalahan yang dulu ia hadapi ketika menggali peluang pasar lewat aplikasi tanya jawab TADO. Karena TADO mengandalkan user generated content (UGC), ia mengakui pihaknya tidak punya kontrol cukup untuk membuat para penggunanya menetap dan aktif memakai aplikasi ini setiap waktu.

Permasalahan ini disebabkan banyak faktor, namun salah satu problem paling krusial adalah partisipasi pihak penjawab (influencer maupun selebritas) yang kurang aktif dalam meladeni pertanyaan para pengguna.

“Kalau influencer ini tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam app, maka orang-orang jelas akan bingung dong.”

Permasalahan ini berdampak pada penurunan jumlah pengguna aktif TADO yang signifikan pada tahun setelah peluncuran resminya (2017 silam). Namun di sisi lain, ia juga belajar banyak dari permasalahan TADO. Beberapa di antaranya adalah kejelian melihat perilaku dan kegemaran user, serta pentingnya keberadaan sebuah konten yang bukan dibuat oleh pengguna.

Pengalaman inilah yang hendak Steven terapkan dengan memproduksi sendiri konten berkualitas yang relevan di platform TADOtv. Untuk itu, pihaknya mulai mengalokasikan hampir semua sumber daya untuk produk kedua mereka.

Pengalaman menonton video interaktif ala Bandersnatch

TADOtv dikembangkan sebagai platform menonton video berformat vertikal yang bisa diakses tanpa memungut biaya. Dalam platform tersebut, pengguna bisa menyaksikan konten video horor, drama, ataupun komedi singkat dengan alur percabangan cerita yang bisa dipilih masing-masing pengguna.

Konsep percabangan cerita ini mirip dengan film Bandersnatch di Netflix yang sempat ramai diperbincangkan akhir 2018 lalu. Di tengah berjalannya video, penonton diberikan dua macam pilihan yang akan memengaruhi adegan berikut dan akhir cerita.

Konsep video choose-your-own-adventure sebetulnya bukan hal baru, namun TADOtv menjual konsep tersebut lewat penyajian video vertikal yang belum pernah dirambah pemain lain di Indonesia. Format video vertikal menurut Steven lebih efektif bagi para pengguna perangkat mobile, mengingat mobilitas mereka yang tinggi.

“Orang yang mau menonton film berdurasi panjang mungkin lebih menyukai video horizontal karena dianggap lebih sinematik. Namun melalui medium video vertikal, kita bisa memberikan mereka pengalaman menonton yang jauh lebih personalized, seolah-olah sedang melakukan  video call,” jelas Steven.

“Kita lihat tren ke depan akan jauh lebih banyak lagi (pemanfaatan) video-video vertikal, karena itu kita ingin jadi pihak yang diperhitungkan untuk penyajian konten semacam ini di Indonesia.”

Pendekatan produk yang dinilai membuahkan hasil ini lantas memberikan tantangan baru bagi Steven dan tim. Kini, dengan skala pertumbuhannya yang terus meningkat naik, pihaknya berpacu dengan waktu untuk terus menghasilkan konten video berkualitas.

Ini mereka lakukan demi memenuhi minat pengguna dan menggaet orang-orang lain agar tertarik mencoba pengalaman video yang mereka tawarkan. Dengan pendanaan yang mereka kantongi beberapa waktu lalu, TADOtv ingin fokus kepada pengembangan pertumbuhan konten terlebih dahulu, sebelum melirik aspek lain seperti model bisnis atau monetisasi.

Dominik Laurus selaku COO TADOtv juga tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan platform dashboard khusus, agar para kreator independen bisa mengunggah video interaktif mereka sendiri, lengkap dengan percabangan cerita dan bantuan kurasi dari pihak TADOtv agar kualitas konten di platform mereka tetap terjaga.

Saat ini TADOtv mengupayakan kecepatan produksi konten yang maksimal, salah satunya dengan jalan menggaet peluang kolaborasi bersama pihak kreator video lokal. Dengan menyajikan konten yang kental akan nuansa lokal, ia optimis bisa mendapatkan posisi tersendiri di tengah maraknya tren video vertikal di kalangan pengguna mobile seperti TikTok, Snapchat, dan IGTV dari Instagram.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Sajikan Konten Lokal, TADOtv Ingin Jadi Platform Video Interaktif Terbesar di Indonesia appeared first on Tech in Asia.

The post Sajikan Konten Lokal, TADOtv Ingin Jadi Platform Video Interaktif Terbesar di Indonesia appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi