Tantangan dan Peluang Startup Kesehatan di Indonesia Tahun 2018


Ikhtisar

  • Mayoritas startup kesehatan telah berhasil menggaet jutaan pengguna di tanah air selama tahun 2017.
  • Edukasi kepada masyarakat Indonesia tentang pentingnya deteksi dini terhadap penyakit.
  • Meski kesehatan masih menjadi salah satu sektor yang tertinggal secara teknologi, para pelaku startup di ranah ini memprediksi di tahun 2018 masih akan muncul berbagai layanan kesehatan baru.

Di Indonesia, telah banyak sektor yang terbantu dengan kehadiran startup teknologi. Saat ini kamu telah bisa membeli barang dengan lebih nyaman dengan bantuan e-commerce, pergi ke lokasi lain dengan lebih cepat menggunakan transportasi online, serta mendapatkan uang pinjaman dengan lebih mudah lewat layanan yang dihadirkan para startup fintech.

Kemajuan teknologi tersebut pun telah merambah ke berbagai bidang lain, termasuk dunia kesehatan.

Mayoritas startup yang bergerak di bidang tersebut berusaha menyajikan informasi kesehatan dalam bentuk website, dan mengambil keuntungan dari pemasangan iklan. Untuk memperkaya konten, mereka pun memungkinkan kamu untuk memberikan pertanyaan kepada para dokter secara online. Beberapa startup yang menjalankan bisnis seperti ini adalah:

Selain itu, ada juga startup yang menghadirkan aplikasi khusus untuk berkonsultasi langsung dengan para dokter. Mereka mengenakan biaya untuk setiap percakapan yang terjadi di platform mereka. Contoh startup yang menjalankan model bisnis seperti ini adalah:

Kemudian ada juga layanan yang memungkinkan kamu untuk memesan obat secara online, seperti:

Selain itu, ada juga startup yang bisa memudahkan kamu untuk bertemu langsung dengan dokter seperti:

startup  kesehatan yang memungkinkan kamu memesan jasa perawat seperti:

Lalu bagaimana sebenarnya perkembangan para startup kesehatan tersebut di tahun 2017 yang lalu? Dan bagaimana peluang mereka di tahun 2018 nanti? Mari simak ulasannya berikut ini.

Berhasil menjangkau jutaan pengguna di tanah air

Alodokter CEO nathanael Faibis

CEO Alodokter, Nathanael Faibis

Menurut para startup yang menyediakan aplikasi konsultasi dokter seperti Alodokter dan Halodoc, hingga tahun 2017 kemarin layanan mereka telah berhasil menggaet jutaan pengguna.

Halodoc mengaku telah mempunyai sekitar satu juta pengguna unik pada bulan Desember 2017. Sedangkan Alodokter mengaku mempunyai 14 juta pengguna aktif bulanan, karena mereka juga menghitung para pengguna yang mengakses berbagai informasi kesehatan yang mereka sajikan lewat website.

“Mayoritas pengguna kami adalah wanita muda berusia 20 hingga 30 tahun, yang tinggal di kota besar. Informasi yang mereka cari sangat beragam, tergantung kondisi kesehatan mereka dan anggota keluarga mereka. Namun informasi mengenai penyakit, kehamilan, dan kesehatan bayi merupakan hal-hal yang paling sering dicari di platform kami,” ujar Nathanael Faibis, founder dan CEO dari Alodokter, kepada Tech in Asia Indonesia.

Sedangkan Medika App, yang berusaha menghubungkan pasien dengan dokter secara langsung, mengaku telah mempunyai 1500 pengguna meski baru diluncurkan pada bulan Mei 2017. Hal tersebut berhasil mereka raih meski tanpa mengeluarkan banyak uang untuk biaya pemasaran.

“Dalam rencana kami, 2017 memang saatnya untuk fokus memperkaya kemitraan dengan rumah sakit dan klinik. Kini kami telah bekerja sama dengan 109 rumah sakit dan klinik di Jabodetabek,” ujar Danang Firdaus, CEO dan co-founder dari Medika App.

Edukasi masyarakat masih menjadi tantangan

GO-JEK-Halodoc-2-1

Jonathan Sudharta, CEO Halodoc (tengah)

Menurut Halodoc, tantangan terbesar yang mereka alami di tahun 2017 adalah masalah edukasi kepada masyarakat Indonesia tentang pentingnya deteksi dini terhadap penyakit. Oleh karena itu, di tahun 2018 nanti, mereka bertekad untuk fokus pada edukasi konsumen dan pembuatan konten yang baik.

“Kami percaya saat ini masih terjadi gap yang besar antara kebutuhan masyarakat akan informasi kesehatan dengan suplai informasi yang ada, terutama yang datang langsung dari dokter,” jelas Jonathan Sudharta, CEO dan co-founder dari Halodoc.

Hal lain yang akan terus dilakukan Halodoc adalah terus memanjakan pengguna dengan berbagai layanan mereka. Itulah mengapa mereka kini telah memungkinkan dokter di platform mereka untuk memberikan resep secara online.

Pendekatan serupa pun terus dilakukan Alodokter, yang berniat mengembangkan ekosistem layanan kesehatan terintegrasi, mulai dari layanan chat dengan dokter, pengelolaan dokumen medis, hingga pemesanan layanan kesehatan offline seperti mengatur jadwal bertemu dengan dokter.

Tidak ada jalan pintas. Semuanya tentang bagaimana kami mengerti kesulitan yang dihadapi pengguna, dan membuat solusi yang tepat bagi mereka.

Nathanael Faibis,
CEO dan founder Alodokter

Adapun untuk Medika App, mereka lebih memilih untuk memperluas layanan mereka ke vertikal lain. Pada bulan Desember 2017 yang lalu, mereka telah meluncurkan fitur pemesanan untuk layanan Health & Beauty. Hal ini merupakan cara mereka untuk memenuhi target 75 ribu pengguna di akhir tahun 2018 nanti.

“Tantangan terbesar kami adalah bagaimana kami berlomba dengan waktu untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan diterima oleh pengguna dan mitra kami,” tutur Danang.

Untuk memuluskan jalan mereka, Medika App pun berniat untuk memanfaatkan pemasaran dengan sistem referral serta media sosial.

Masih akan banyak startup kesehatan yang bermunculan di 2018

MenurutCEO Alodokter Nathanael Faibis, kesehatan memang salah satu sektor yang cukup tertinggal dalam adopsi teknologi. Tidak hanya di Indonesia, namun juga di seluruh dunia. Mayoritas masyarakat masih menggantungkan keputusan mereka kepada informasi kesehatan yang mereka dapat secara konvensional.

“Namun seiring dengan kian baiknya akses internet dan layanan kesehatan untuk mayoritas penduduk di Indonesia, kebutuhan masyarakat akan informasi kesehatan pun akan meningkat,” tutur Faibis.

Medika App | Founder

Danang Firdaus, CEO Medika App (kedua dari kanan)

Hal ini pun diamini oleh Halodoc dan Medika App. Menurut mereka, di tahun 2018 nanti kita masih akan melihat beberapa startup kesehatan yang bermunculan, dengan model bisnis yang berbeda-beda.

“Harapan saya, semoga dapat tercipta kolaborasi dan kerja sama antar pemain startup kesehatan di tanah air, agar bisa (sama-sama) mengedukasi pasar tentang healthtech, agar berkembang lebih pesat di tahun-tahun mendatang,” tutur Danang.

Sedangkan untuk jenis teknologi yang bisa mendukung layanan mereka, para startup di bidang kesehatan masih melihat potensi dari teknologi mobile. Adapun terkait teknologi baru seperti blockchain dan AI, masih belum dapat diprediksi kapan mereka akan memberikan pengaruh besar di dunia kesehatan.

(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

This post Tantangan dan Peluang Startup Kesehatan di Indonesia Tahun 2018 appeared first on Tech in Asia.

The post Tantangan dan Peluang Startup Kesehatan di Indonesia Tahun 2018 appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi