Upaya eFishery dan Jala Membuat Perikanan Terlihat “Seksi” sebagai Peluang Bisnis Startup


Ikhtisar
  • Teknologi IoT smart feeder milik eFishery merupakan pengaplikasian  mobilitas smartphone sebagai alat bantu peternak ikan sehari-hari.
  • Sementara itu, menurut CEO Jala, Raynalfie B. Rahardjo, Jala menghadirkan IoT device untuk memonitor kualitas air tambak 24 jam, di mana data hasil pengukuran ini dapat diakses melalui perangkat mobile atau web based.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi kelautan yang begitu besar dan juga sumber daya perikanan yang begitu beragam. Menurut data perusahaan konsultan CDMI, peluang industri perikanan yang demikian besar tadi bisa dilihat dari luasnya ketersediaan areal budidaya perikanan yang terus meningkat selama enam tahun terakhir (2011 hingga 2016).

Hal ini pun menjadi lahan bisnis yang potensial bagi para pelaku startup di Indonesia. Meskipun startup “perikanan” gaungnya kurang begitu terdengar  dibandingkan sektor lainnya, namun bagi para pelakunya, fokus untuk mencarikan solusi pemecahan masalah yang efisien justru menjadi tujuan utama daripada sekadar mengikuti tren sekitarnya.

Dalam sesi bincang-bincang panelling dengan CEO Jala, Raynalfie B. Rahardjo dan VP Marketing eFishery, Ivan Nashara di acara IDEAFEST 2017, keduanya pun menjelaskan alasan mengapa perikanan bisa menjadi model bisnis yang sustainable bagi startup tanah air.

Peternak Ikan | Photo

Sumber: Angelco

Bidik Solusi iOT untuk mempercanggih “peternak” ikan

Dari perbincangan Ivan dan Raynalfie, penerapan IoT (Internet of Things) ini bertujuan untuk membantu tingkatkan produktivitas peternak budidaya ikan (aquaculture).

Ivan menjelaskan bahwa teknologi IoT smart feeder milik eFishery merupakan pengaplikasian  mobilitas smartphone sebagai alat bantu peternak ikan sehari-hari.

“Ketika kita membeli ponsel, kita selalu install aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan kita kan? eFishery (kasarnya) adalah handphone  yang digunakan petani untuk ditaruh ke dalam kolamnya. Dengan ini, nantinya ia bisa memilih fitur lain-lain untuk mempercanggih kolam mereka dan mendapatkan informasi data-datanya,” ungkap Ivan.

Jala Tech Angelco | Photo

Senada dengan eFishery, Raynalfie dari Jala juga mengungkapkan bagaimana implementasi IoT yang digeluti startup sejenis mereka bisa menghadirkan dampak nyata terhadap solusi produktivitas peternak ikan di Indonesia.

“Jala sendiri menghadirkan IoT device untuk memonitor kualitas air tambak 24 jam, di mana data hasil pengukuran ini dapat diakses melalui perangkat mobile atau web based,ujar pria lulusan Universitas Gajah Mada ini.

Data sebagai jembatan inklusi keuangan kaum peternak

Akumulasi data melalui perangkat IoT tadi bisa dibilang  merupakan kunci bagi kedua startup ini untuk memantau detail permasalahan peternak ikan dan mencari solusi yang tepat guna.

“Ada beragam jenis data yang bisa diakumulasi lewat perangkat IoT mulai dari kualitas air, sanitasi, penjadwalan makan ikan, dan sebagainya agar bisa beternak secara lebih efisien,” jelas Ivan.

Lebih lanjut, Ivan juga menjelaskan bahwa analisis data ini dapat terus dikembangkan menjadi bagian credit scoring untuk kebutuhan layanan finansial para peternak ikan di masa depan.

“Kita sudah berkomunikasi secara intens dengan beberapa komunitas perikanan. Di situ kami kemudian menjumpai masalah  kesenjangan modal. Ada orang yang sebenarnya memiliki potensi perekonomian tinggi, tetapi tidak bisa mengajukan kreditur karena rekam jejak data yang buruk.”

Di luar potensinya untuk menjembatan inklusi keuangan, kehadiran IoT bagi kalangan pembudidaya ikan ini juga mampu menghemat biaya dan permasalahan sumber daya manusia yang sering dijumpai di Indonesia.

Efishery Jala | Photo

Mencarikan solusi pangan yang berkelanjutan di masa depan

Selain membantu peternak mengoptimalkan proses budidaya ikan, tujuan lainnya yang ingin dibangun oleh pelaku startup lokal di bidang ini antara lain adalah mengupayakan solusi pangan yang berkelanjutan bagi kebutuhan masyarakat luas.

Ivan menjelaskan bahwa kondisi Indonesia saat ini masih jauh dari pemanfaatan dan pengolahan pangan yang bersumber kepada perairan, terutama dari lingkup tambak.

Menurut Ivan, berbeda dengan aktivitas menangkap ikan di laut yang bisa saja habis di masa depan, budidaya ikan atau aquaculture yang terus menerus diperbarui dapat mengikuti tingkat konsumsi masyarakat yang terus bertumbuh sehingga jauh lebih sustainable.

“Jika kita melihat pertumbuhan bisnis peternakan apa yang sustainable di masa depan, ikan jauh lebih unggul dari segi pembudidayaan dibandingkan sapi, babi, dan ayam,” ungkap Ivan.

Hal senada juga dijelaskan Raynalfie. Ia menjelaskan memang pada awalnya fokus dari startup aquaculture (seperti Jala dan sejenisnya) adalah memperluas adopsi perangkat IoT mereka ke masyarakat. Namun di luar itu, ia tidak menampik adanya agenda sosial yang lebih besar bagi kepentingan bersama.

Dengan adanya hal tersebut, cukup menarik untuk melihat bagaimana perkembangan adopsi teknologi ini terhadap kegiatan budidaya ikan lokal dan dampaknya terhadap ekonomi masyarakat di masa mendatang.

(Diedit oleh Septa Mellina; Sumber gambar: Biji Bersemi)

The post Upaya eFishery dan Jala Membuat Perikanan Terlihat “Seksi” sebagai Peluang Bisnis Startup appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi