Weston Ingin Upayakan Pemerataan Listrik di Pedesaan dengan Energi Terbarukan


Founder: Wynn Nathaniel, Imam Askolani, Dr. Chip Rinaldi
Industri: penyedia tenaga listrik alternatif
Status pendanaan: seed funding

  • Dengan menyediakan berbagai sumber energi alternatif, seperti panel surya atau turbin angin, Weston bercita-cita memberikan dampak sosial ekonomi positif kepada masyarakat pedesaan.
  • Tak hanya menyediakan solusi energi alternatif untuk kawasan rural, Weston juga giat bekerja sama dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat guna memberikan edukasi pada penduduk rural.

button ulasan startup


Mencari solusi untuk mengganti sumber energi tak terbarukan adalah salah satu hal potensial yang dapat ditekuni para penggiat startup di Indonesia. Tujuan ini mendorong Wynn Nathaniel bersama kedua koleganya untuk mendirikan sebuah startup yang bergerak di bidang sumber energi alternatif, antara lain dengan memanfaatkan tenaga surya.

Ketertarikan Wynn terhadap renewable energy tidaklah muncul karena iming-iming peluang bisnis yang besar. Minatnya murni berdasarkan  dampak sosial ekonomi yang bisa diberikan oleh kemajuan teknologi, khususnya di kawasan daerah tertinggal.

Masalah utama distribusi listrik di kawasan rural adalah kecenderungan pola rumah yang tersebar, sehingga proses distribusi listrik lewat jalur PLN biasanya memerlukan investasi yang sama sekali tidak sedikit.

Kondisi desa yang belum menikmati listrik secara menyeluruh ini menurut Wynn tidak bisa sekadar menunggu tindakan dari pemerintah saja. Kepada Tech in Asia Indonesia, Wynn menjelaskan keberadaan jurang pemisah yang cukup lebar dalam distribusi listrik di kawasan daerah, terutama Indonesia Timur.

Menurut Nathan, meski wilayah pinggiran telah terjangkau jaringan grid listrik PLN, kenyataannya distribusi listrik masih kurang maksimal di daerah tersebut. “Masalah utama distribusi listrik di kawasan rural adalah kecenderungan pola rumah yang tersebar, sehingga proses distribusi listrik lewat jalur PLN biasanya memerlukan investasi yang sama sekali tidak sedikit,” ujar Nathan.

Weston Founder | Photo

Untuk memecahkan problem ini, Wynn menjelaskan bahwa salah satu solusi terbaik yang bisa diberikan adalah lewat pendayagunaan teknologi penghasil energi terbarukan. Salah satunya melalui panel tenaga surya.

Menurut Wynn, lokasi pedesaan sangat efektif bagi pemasangan panel tenaga surya, karena dinilai lebih cocok dengan struktur geografisnya yang tidak terpusat. Pemasangan panel tenaga surya bisa menghasilkan sumber energi hingga mencapai 2 Kilowatt.

Selain sederhana untuk diimplementasikan, tenaga yang dihasilkannya juga cukup untuk memenuhi kebutuhan di pedesaan.

Wynn Nathaniel,
CEO Weston

Startup energi yang didirikan sarjana ekonomi

Berbekal jiwa sociopreneur miliknya, Wynn yang merupakan sarjana ekonomi mulai mempelajari seluk-beluk teknik kelistrikan hingga berjumpa Imam Askolani (CTO Weston), sarjana teknik elektronika Universitas Indonesia yang kebetulan juga memiliki minat serupa.

Di proses awal pendirian startup ini pula, Wynn juga bertemu Prof. Chip Rinaldi, pakar dari lembaga teknologi UI yang berperan menjadi mentor, penasihat, sekaligus membantu pengembangan produk mereka.

Kedua figur tersebut turut memegang andil terhadap pengembangan awal startup yang namanya diambil dari tokoh pakar ilmuwan penemu sel elektro baterai, Edward Weston ini.

Tantangan startup bidang energi

Di samping menawarkan alat pembangkit daya listrik DC seperti panel tenaga surya, turbin listrik bertenaga angin, dan konsultasi, Weston juga melibatkan diri dalam pengembangan komunitas pedesaan lewat kolaborasi bersama lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pertumbuhan ekonomi dan edukasi masyarakat.

Program kolaborasi bernama Program Cahaya Nusantara ini bertujuan memberikan dampak sosial lebih besar kepada masyarakat pedesaan, dibandingkan hanya sekadar memasang alat pembangkit listrik di daerah-daerah terpencil.

Selama lebih dari dua tahun berjalan sejak resmi didirikan November 2015 silam, Weston menemukan bahwa proses edukasi sosial terhadap pendayagunaan sumber energi terbarukan bukanlah hal yang mudah dijalani di Indonesia.

Weston Activity | Photo

Meskipun awareness terhadap implementasi produk teknologi penghasil energi sangatlah rendah, namun Weston tidak gentar bersosialisasi dan melobi berbagai pihak untuk mendapatkan kepercayaan konsumen di daerah berkembang.

“Kami mendapat kepercayaan berupa dana hibah dari pihak inkubasi Universitas Indonesia untuk alokasi riset pengembangan produk,” ujar Wynn.

Di samping itu, Weston beberapa waktu lalu juga telah terpilih menjadi satu di antara sekian startup yang berkesempatan mengikuti program akselerasi Plug and Play Batch kedua pada kuartal pertama tahun 2018.

Berbeda dengan para peserta program akselerasi Plug and Play batch kedua lainnya yang didominasi layanan fintech, jasa, dan software as a service, Weston tidak membidik laba besar dalam jangka waktu singkat.

Weston | Screenshot

Meski saat ini usaha yang dikerjakan Weston lebih menekankan pada dampak sosial masyarakatWynn mengaku dirinya optimis bahwa startup buatannya bisa menjadi bisnis potensial dalam jangka panjang. “Kebutuhan uang untuk bertahan pasti tetap ada karena hal itu penting untuk perusahaan agar bisa terus melayani. Tapi untuk untung besar? Sejauh ini belum.”

Untuk sekarang, Weston berfokus kepada cara bagaimana agar produk mereka ke depannya bisa dinikmati masyarakat secara lebih luas. Salah satunya adalah mendapatkan standarisasi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Indonesia. Hal ini dilakukan agar ke depannya solusi teknologi yang mereka tawarkan tidak terganjal masalah teknis seperti kasus mobil listrik yang rupanya bermasalah dalam urusan produksi baterai.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Weston Ingin Upayakan Pemerataan Listrik di Pedesaan dengan Energi Terbarukan appeared first on Tech in Asia.

The post Weston Ingin Upayakan Pemerataan Listrik di Pedesaan dengan Energi Terbarukan appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi