Yuna, Aplikasi Matchmaking Fesyen yang Ingin Menjadi Asisten Stylist Kaum Hawa


Founder: Winzendy Tedja, Antonius Murdhani, Roy Prawira
Industri: Matchmaking fesyen
Status pendanaan: tidak disebutkan

  • Yuna adalah aplikasi matchmaking fesyen yang memanfaatkan teknologi AI dan machine learning.
  • Dengan bantuan chatbot yang mereka usung, Yuna berharap bisa mengakomodasi membuat kaum hawa bisa berpenampilan menarik sesuai preferensi fesyen mereka.
  • Di ranah fesyen, Yuna mengedepankan personalisasi. Salah satunya lewat fitur Gazette yang merupakan agregasi konten blog pribadi dan media.
  • Saat ini Yuna masih berfokus untuk pengguna wanita, namun ke depannya mereka tidak menutup untuk ekspansi ke ranah fesyen pria.

button ulasan startup


Sejak 2016 silam, Winzendy Tedja bersama kedua koleganya telah melirik potensi chatbot sebagai layanan personal assistance yang bisa berguna untuk kalangan tertentu, seperti kaum hawa dan kebutuhan fesyen mereka misalnya.

Bermula dari pertanyaan “tidakkah akan lebih baik jika semua perempuan bisa memiliki asisten personal mereka sendiri?”, Zendy yang sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan Singapura memikirkan konsep aplikasi  mobile untuk mengakomodasi tujuan tersebut.

Ketika saya berada di kedai kopi, saya melihat beberapa wanita masuk dan terlihat begitu atraktif, kemudian saya berpikir “berapa banyak waktu yang mereka habiskan setiap hari untuk menemukan pakaian yang tepat?

Winzendy Tedja | Photo

Co-Founder Yuna – Antonius Murdhani

Sekembalinya ke Indonesia, Zendy kemudian bertemu dengan Antonius Murdhani, koleganya yang merupakan mantan karyawan di agensi tempat ia bekerja sebelumnya. Anton yang tertarik dengan ide Zendy lalu mulai membangun prototip awal, lengkap UI / UX yang kemudian menjadi fondasi awal Yuna. Keduanya pun lalu berkenalan dengan Roy Prawira, yang memiliki kecocokan visi ketika membicarakan kecerdasan buatan dan machine learning.

“Yang membuat kami bertiga selaras adalah kami percaya dalam membangun sebuah inovasi yang baru, dan kami selalu percaya bahwa sebenarnya ada bakat bagus di Indonesia. Kita hanya perlu kesempatan untuk itu,” papar Zendy.

Mengapa memakai nama yang menyerupai orang?

Di awal masa pengembangannya, ketiga founder ini sengaja mempertimbangkan sebuah nama yang menyerupai nama orang. Hal ini dilakukan agar ketika user berbicara dengan aplikasi buatan mereka, user bisa merasakan kedekatan emosional.

quote

Winzendy Tedja,
CEO Yuna

Makna dari nama tersebut dianggap mewakili misi yang coba diraih oleh para founder Yuna yaitu membantu wanita agar bisa berpenampilan semenarik mungkin dengan bantuan teknologi yang didesain sesuai preferensi fesyen mereka.

Yuna App | Screenshot

Yuna hadir sebagai aplikasi fashion matchmaking yang memanfaatkan teknologi AI dan machine learningdengan kemasan chatbot yang belakangan ini menjadi tren dalam interaksi penggunaan perangkat mobile.

Melalui pemanfaatan kedua teknologi tersebut, Yuna didesain untuk mempelajari gaya fesyen penggunanya berdasarkan preferensi mereka, dan memadupadankannya dengan beragam item fesyen menarik yang tersimpan dalam katalog produk Yuna.

Cakupan kanal personalisasi

Zendy menjelaskan bahwa platform yang mereka buat juga begitu scalable dari segi bisnis dan produk, sehingga bisa dikembangkan lebih luas lewat penambahan beragam ide fitur menarik ke depannya.

“Salah satu pengembangan fitur terbaru dari kami adalah Gazette, yang pada dasarnya merupakan agregasi isi dari media fesyen dan blog. Dengan konsep matchmaking yang kami punya, Yuna nantinya akan mencocokkan konten yang disukai pengguna sesuai dengan preferensi bacaan agregasi konten yang mereka suka,” jelas Zendy.

Yuna Team | Photo

Di samping itu, Zendy juga menjelaskan bahwa Yuna mempunyai beragam kanal revenue untuk pengembangan bisnis.

  • Model abonemen bagi brand fesyen ternama
  • Komisi berdasarkan transaksi dari aplikasi Yuna

Sebelum resmi hadir pada bulan Desember 2017, Yuna juga telah melalui masa soft launch untuk versi iOS pada bulan Mei silam. Beberapa bulan sebelumnya, ketiga founder ini juga telah memperkenalkan produk mereka di beberapa ajang konferensi teknologi global seperti RISE Hongkong, G-Startup, dan Tech in Asia Singapore 2017.


Dengan mengusung konsep matchmaking di bidang fesyen, Yuna secara tidak langsung bersaing dengan aplikasi fesyen wanita sejenis seperti LYKE dan Zalora yang juga menyelipkan fungsi computer learning dan fitur personalisasi pengguna ke dalam aplikasi mereka. Di samping keduanya, ada juga aplikasi chatbot sejenis seperti LilyApp dan Kakcho yang berasal dari India.

Yuna sendiri saat ini telah memasuki fase pengembangan versi kedua dengan jumlah katalog mencapai lima ratus ribu SKU dari 32 brand ternama, baik lokal maupun internasional. Untuk pengembangan ke depannya Zendy mengungkapkan bahwa pihaknya tidak menutup kemungkinan akan membidik pangsa pasar laki-laki, usai mengoptimalkan struktur teknologi dan operasional mereka sejak resmi berdiri di bulan Oktober 2016.

(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

The post Yuna, Aplikasi Matchmaking Fesyen yang Ingin Menjadi Asisten Stylist Kaum Hawa appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi