Statistik Terbaru GO-JEK Setelah Menutup Putaran Pertama Pendanaan Seri F

Perusahaan transportasi online asal Indonesia, GO-JEK, mengumumkan telah menutup putaran pertama dari pendanaan seri F yang sedang berlangsung. Para investor yang memimpin pendanaan ini di antaranya Google, JD, dan Tencent.

GO-JEK tidak mengungkapkan angka investasi yang diterima, tetapi kabarnya mereka berhasil mengumpulkan hingga US$2 miliar (sekitar Rp27 triliun). Dilansir dari TechCrunch, akhir putaran pendanaan kali ini akan membuat perusahaan itu bernilai hingga US$9,5 miliar (sekitar Rp132 triliun).

GO-JEK membeberkan statistik terbaru mengenai traksi mereka, sebagai berikut:

  • Volume transaksi tahunan mencapai dua miliar pada 2018.
  • Gross Transaction Value (GTV) tahunan lebih dari US$9 miliar (Rp125 triliun) untuk seluruh pasar di mana mereka beroperasi.
  • Dari jumlah tersebut, sebesar US$6,3 miliar (Rp87 triliun) GTV berasal dari GO-PAY, dan US$2 miliar (Rp27 triliun) didapat dari GO-FOOD.
  • Kini hadir di 5 negara, mereka juga mengklaim menguasai 40 persen pangsa pasar Vietnam.
  • GO-JEK dan jaringan dagang mereka: 2 juta mitra pengemudi, 400.000 merchant, 1,5 juta agen, 600.000 penyedia jasa.
  • Aplikasi yang termasuk dalam ekosistem GO-JEK telah diunduh lebih dari 130 juta kali.

Sebaliknya, berikut adalah statistik yang dipublikasikan oleh Grab ke khalayak umum:

  • Pendapatan senilai US$1 miliar (sekitar Rp13 triliun) pada 2018.
  • Jumlah perjalanan yang dipenuhi layanan transportasi online mereka mencapai angka tiga juta sampai dengan Januari 2019.
  • Hadir di 8 negara, mengklaim telah menguasai 62 persen pangsa pasar Indonesia.
  • Mempunyai 9 juta mitra pengemudi, merchant, dan para agen.
  • Telah diunduh lebih dari 130 juta kali.

Kami kemudian mengontak App Annie untuk mengetahui data jumlah unduhan aplikasi yang dicatat oleh mereka. Angka inilah yang kami dapatkan (untuk iOS dan Google Play):

  • GO-JEK diunduh lebih dari 57 juta kali
  • Grab diunduh lebih dari 139 juta kali

Juru bicara App Annie menjelaskan bahwa data yang mereka punya hanya berkaitan dengan aplikasi GO-JEK. Mereka tidak dapat mengungkapkan data untuk aplikasi afiliasi GO-JEK lainnya. “Kami jelas tidak mempunyai pengetahuan atau akses ke data internal mereka.”

Kami juga menanyakan hal ini ke GO-JEK. Kami meminta perusahaan tersebut mengklarifikasi perbedaan GTV dengan metrik yang digunakan industri pada umumnya—Gross Merchandise Volume.

Dalam hal pemesanan, sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan:

  • Hampir tiga puluh persen pesanan pada aplikasi GO-JEK di wilayah Indonesia kemungkinan palsu.
  • Pesanan palsu juga dialami Grab sebesar lima persen di wilayah yang sama.

Namun, Grab menyatakan telah berhasil menurunkan angka pemalsuan di Indonesia hingga kurang dari satu persen, dan menekankan bahwa, “dengan mempunyai platform yang bebas penipuan menunjukkan kalau GMV kami lebih bersih.”

Mengembangkan jejak di berbagai wilayah

GO-JEK bermula sebagai platform transportasi online pada tahun 2015 dan merambah dengan cepat ke berbagai bidang seperti logistik, pemesanan makanan, pembayaran mobile, dan berbagai layanan untuk merchant.

Mereka kini menghadapi persaingan sengit dengan Grab untuk menjadi “super-app” terdepan—layaknya persaingan Alipay dengan WeChat di Cina.

Baru tahun lalu, GO-JEK memasuki pasar baru di Thailand, Vietnam, dan Singapura. Mereka mendapat penolakan di Filipina, karena dianggap melanggar aturan kepemilikan pihak asing. Namun mereka masih bisa menjejakkan kaki di negara tersebut melalui kesepakatan akuisisi dengan startup pembayaran mobile, Coins.ph.

Dalam penyataan terbarunya, GO-JEK mengonfirmasi akan melanjutkan kerja sama strategis dengan investor JD untuk meningkatkan layanan logistik dan e-commerce di Indonesia.

Perusahaan modal ventura raksasa teknologi asal Cina J-Express akan mempererat kerja sama dengan jaringan kurir milik GO-JEK. Mereka juga akan makin banyak berkolaborasi dalam bidang solusi pembayaran, pemasaran, dan IT.

Di luar putaran pendanaan ini, total investasi yang diungkapkan GO-JEK hingga saat ini mencapai US$2 miliar (sekitar Rp27 triliun). Nilai valuasi perusahaan ini terakhir berada pada angka US$5 miliar (Rp69 triliun).

Grab sendiri telah menggalang dana US$6,8 miliar (sekitar Rp94 triliun) dari para investor,  berdasarkan data dari Crunchbase. Nilai valuasi terakhir mereka baru-baru ini sebesar US$11 miliar (sekitar Rp153 triliun) .

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Fairuz Rana Ulfah sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Statistik Terbaru GO-JEK Setelah Menutup Putaran Pertama Pendanaan Seri F appeared first on Tech in Asia.

The post Statistik Terbaru GO-JEK Setelah Menutup Putaran Pertama Pendanaan Seri F appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi