skip to Main Content

Bedah Buku Falsafah Pancasila Epistimologi Keislaman Kebangsaan

Falsafah ketuhanan dengan nilai reigio-magis menjadi suatu nilai konstanta yang denganya manusia Indonesia dapat bergerak secara dinamis, sebagai manusia yang monopluralis. Konsep akan pengakuan atas keesaan Allah yang mengendalikan diri dan alam pijaknya, menundukkan manusia kedalam ruang kendali kekuasaan-Nya yang tanpa batas (Qs. Al-A’raaf (7) : 158)” (Synopsis, Buku Falsafah Pancasila).

Jakarta (06/05) –Acara “Bedah Buku Falsafah Pancasila Epistimologi Keislaman Kebangsaan” yang diadakan oleh Program Studi Hukum Universitas Al Azhar Indonesia, telah disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh banyak peserta yang hadir. Buku ini bahkan  ditulis langsung oleh Dosen Fakultas Hukum Universitas Al Azhar Indonesia Bapak Dr. Fokky Fuad Wasitaatmadja. Dalam bedah buku ini banyak menjelaskan bagaimana pancasila dalam kiprahnya sebagai fondasi bangsa Indonesia sangat  erat kaitanya dengan nilai nilai religius islam. Selain sang penulis buku, acara ini juga turut menghadirkan Dr. Hendra Nurtjahyo (Kepala Pusat Studi Pancasila, Universitas Pancasila) sebagai pembedah buku.

Buku yang di deklarasikan terbit ditahun 2018 ini sebenarnya telah siap naskahnya sejak malam takbiran bulan Ramadhan tahun 2017. Terinspirasi dari sebuah pemikiran perdebatan falsafah, dimana dalam perdebatan itu beliau menemukan kalimat “Pancasila itu kafir”,  penggalan kalimat inilah yang kemudian berhasil menggerakkan Pak Fokky untuk menulis buku ini. Berbeda dengan gagasan yang diungkapkan oleh Buya Hamka bahwa Pancasila adalah bentuk bagaimana umat Islam bertauhid, semakin menggunggah niat besar Pak Fokky untuk menjelaskan kembali bagaimana sejarah islam menjadi bayang bayang yang tidak bisa dipisahkan dari nilai kandungan Pancasila. Pancasila dengan status kafir tidak bisa dibenturkan, karena menurut beliau Pancasila bukanlah sebuah agama. Namun, dengan falsafah Pancasila ini manusia Indonesia menyadari bahwa ruang kebebasan dan kemerdekaan yang ia raih atas kehendak-Nya. Kesadaran akan nilai-nilai imateri ke dalam dirinya menjadikan ia bergerak dinamis dalam lingkar ide-ide spiritualisme, sehingga islam dan pancasila memiliki kaitan yang sangat erat.

“Buku adalah karya monumental, problematika yang tertulis dalam bukulah yang akan dicatat dalam sejarah, bukulah yang akan menjelaskan bagaimana gambaran pemikiran yang dimiliki oleh seorang penulis” ujar Dr. Hendra yang sangat mengapresiasi karya pemikiran Pak Fokky yang dituangkan dalam sebuah buku.  Eksistensi negara Indonesia berada di Pancasila, ditengah banyak ideologi negara yang mulai ter-degedrasi, pancasila masih kukuh terhadap nilai nilai yang dikandungnya. Oleh karena itu, Pak Hendra sangat meyetujui bahwa pembahasan dalam buku ini sangat penting untuk mengingatkan kembali eksistensi atau keberadaan nilai yang sempat terlupakan dalam Pancasila.

Dalam sesi terakhir beliau menjelaskan tentang bagaimana menerapkan nilai nilai pancasila pada generasi masa kini. Melihat generasi yang kian praktis, sudah seharusnya menjadikan kita untuk turut berfikir kreatif.  Misalnya dengan melakukan pendekatan sosial menggunakan teknologi IT, dalam project film ataupun media berbasis aplikasi contohnya yang kian dekat dengan kehidupan generasi masa kini.  Masyarakat sudah seharusnya sadar bahwa pancasila bukan hanya sekedar teori,  tapi justru keberadaanya sangat dekat dengan kehidupan sehari hari.  Pak Fokky secara umum berhasil membungkus karyanya dengan susunan yang sangat apik sehingga jelas memudahkan kalangan masyarakat terutama mahasiswa untuk memahami maksud, tujuan  dan pesan  yang ingin disampaikan.  Buku ini menjabarkan dengan apik bahwa Falsafah Pancasila adalah kesatuan values atau nilai- nilai yang muncul dalam kesadaran manusia Indonesia atas keEsaan Allah Ta’ala dan rasa kebersamaan dengan sesama manusia lain. Semoga Kehadiran buku ini dapat menunjang sistem pembelajaran mahasiswa  dan membuka banyak mata para pembaca akan nilai nilai imateri dalam kandungan pancasila yang bukan hanya kutipan semata.



 

Source: Berita Kampus

Back To Top