skip to Main Content

CFO Bukalapak Bicara Tentang Pendanaan Startup di Indonesia dan Status Unicorn


Ikhtisar

  • Menurut CFO Bukalapak Muhamad Fajrin Rasyid, status unicorn sudah mereka sandang karena mereka telah memiliki valuasi yang sama atau di atas US$1 miliar (sekitar Rp14 triliun).
  • Untuk menghitung valuasi, gunakan faktor pengali dari perusahaan lain yang menggerakkan bisnis sejenis di area yang sama.
  • Kemampuan memberi jaringan yang luas, keahlian dalam membantu startup menjadi sukses, dan pengalaman menjalankan bisnis adalah tiga hal yang sebaiknya dipertimbangkan dalam memilih investor.

Sekitar dua minggu yang lalu, CEO Bukalapak Achmad Zaky membuat kejutan ketika ia tiba-tiba menyatakan bahwa startup yang ia pimpin telah mempunyai valuasi di atas US$1 miliar (sekitar Rp13,5 triliun). Hal ini pun membawa Bukalapak menjadi startup unicorn keempat di tanah air, menyusul GO-JEK, Tokopedia, dan Traveloka.

Sayangnya, hingga saat ini pihak Bukalapak masih bungkam tentang berapa nominal investasi yang membawa mereka ke status unicorn tersebut, termasuk siapa investor yang memberikannya.

Pada tanggal 27 November 2017 yang lalu, CFO Bukalapak Muhamad Fajrin Rasyid hadir di acara meetup komunitas Startup Lokal untuk berbagi pengalaman dan opininya tentang pendanaan startup di tanah air.

Apa yang ia katakan tentang status unicorn tersebut? Dan apa saja hal-hal seputar pendanaan startup yang menurutnya harus diperhatikan oleh para founder tanah air? Simak ulasannya berikut ini.

(Artikel ini dibuat dengan format tanya jawab demi memudahkan pembaca)

Bagaimana mendeskripsikan status unicorn di satu perusahaan?

Bukalapak sudah menjadi unicorn, itu artinya kami telah mempunyai valuasi post money sama dengan atau di atas US$1 miliar (sekitar Rp14 triliun). Dengan kata lain, ada investasi yang misalnya (ingat ini hanya contoh) bernilai US$100 juta (sekitar Rp1,35 triliun) untuk persentase saham minimal 10 persen.

Adapun tentang berapa sebenarnya investasi yang diterima oleh Bukalapak, dan siapa investor yang memberikan, saya belum bisa menjelaskan dengan lebih detail.

Pendanaan Startup uang Vertex Ventures

Bagaimana sebenarnya cara menentukan valuasi tersebut?

Menghitung valuasi startup sebenarnya bukan sesuatu yang rumit. Ketika kita menawarkan sebuah nilai kepada investor, dan ia menerima, maka itulah valuasi kita. Namun apabila tidak ada yang mau menerima nilai yang kita tawarkan, maka artinya kita menetapkan valuasi yang terlalu tinggi.

Salah satu cara yang bisa digunakan untuk mendapatkan sebuah angka valuasi dalam pendanaan startup adalah dengan menggunakan faktor pengali (multiple) dari perusahaan lain yang menjalankan bisnis yang serupa, dan berada di negara atau daerah yang sama. Multiples tersebut biasanya didapat dari perbandingan valuasi dengan keuntungan perusahaan, yang biasa dikenal dengan Price Earning Ratio (PER).

Cukup kalikan multiple tersebut dengan keuntungan kamu saat ini, dan kamu akan mendapatkan angka yang bisa kamu jadikan valuasi startup kamu.

Lalu bagaimana dengan perusahaan yang belum mendapat keuntungan? Maka kamu bisa mengganti keuntungan dengan variabel lain, seperti Gross Merchandise Value (GMV) di bisnis e-commerce, dan total nilai tumpangan di bisnis transportasi online.

Namun sayangnya, hal ini kemudian membuat beberapa startup akhirnya mengejar GMV dengan berbagai macam cara. Ada yang meningkatkan GMV dengan cara memberikan harga promo, atau bahkan membuat transaksi palsu. Hal itu memang bisa menaikkan GMV perusahaan, namun hal itu justru menambah kerugian dari perusahaan tersebut.

Oleh karena itu, saat ini investor mulai memperhatikan beberapa variabel lain, seperti:

  • Clean GMV, alias GMV yang bebas dari transaksi palsu
  • Expense over GMV, atau perbandingan antara pengeluaran dan GMV
  • Pendapatan dan keuntungan
  • Jumlah pelanggan yang kembali melakukan transaksi

Apa yang harus diperhatikan oleh founder startup ketika mendapat term sheet pendanaan?

Ketika memberikan perjanjian (term sheet) pendanaan startup, ada beberapa investor yang mengajukan hal-hal berikut demi mengurangi kerugian mereka:

Liquidation Preference

Apabila startup tersebut tutup, maka mereka harus menyisihkan terlebih dahulu uang yang tersisa sebanyak dua, tiga, atau empat kali lipat dari nilai investasi sang investor, dan mengembalikannya. Setelah itu, baru mereka boleh membaginya kepada para founder atau investor lain.

Cumulative Devident

Aturan ini mengatur bahwa setiap tahunnya, startup harus membagi deviden (keuntungan) kepada sang investor. Apabila startup tersebut belum untung, mereka pun dianggap berhutang kepada sang investor, yang harus dibayar di tahun-tahun berikutnya.

Kewenangan Lebih dari Investor

Ada beberapa investor yang juga menginginkan penentuan beberapa hal harus berdasarkan persetujuan mereka.

pendanaan-featured-image

Lalu bagaimana apabila sebuah startup terlanjur menyetujui beberapa aturan tersebut, dan ingin menghilangkannya? Mereka bisa melakukannya dengan cara bernegoisasi dengan investor yang akan memberikan pendanaan di tahap selanjutnya. Dengan demikian, perjanjian (term sheet) pendanaan yang terbaru nantinya akan menghapus segala aturan yang ada di perjanjian sebelumnya.

Apa yang harus diperhatikan oleh founder startup ketika memilih investor?

Jumlah investor yang ada saat ini lebih banyak ketimbang beberapa tahun yang lalu. Karena itu, tentu akan lebih mudah bagi kalian untuk mendapatkan investasi.

Namun ketika memilih investor, jangan hanya melihat jumlah uang yang bisa mereka berikan. Perhatikan juga apakah ia:

  • Bisa memberikan jaringan yang luas.
  • Mempunyai keahlian untuk membantu kamu meraih kesuksesan
  • Mempunyai pengalaman menjalankan bisnis.

Investor awal kami, Takeshi Ebihara dari Rebright Partners, merupakan salah satu contoh orang yang mempunyai ketiga hal tersebut.

Apakah valuasi tinggi selalu berarti bagus?

Tidak.

Hal ini berkaitan dengan tujuan akhir dari kamu membuat startup. Apabila valuasi kamu tinggi, maka kamu akan menghadapi tantangan yang berat untuk masuk bursa saham (IPO), diakuisisi oleh perusahaan lain, atau melakukan penggalangan dana (fund raising) lanjutan.

Valuasi lebih rendah mungkin justru lebih baik untuk mendapat valuasi lebih tinggi di tahap pendanaan berikutnya, kebebasan yang lebih, kemudahan untuk fokus ke konsumen, dan lebih mudah untuk exit.

Saat ini Indonesia telah mempunyai dua unicorn di bisnis marketplace, Bukalapak dan Tokopedia. Apakah ini artinya masih ada ruang untuk satu atau dua unicorn lagi di bisnis tersebut?

Banyak pihak yang menyatakan optimisme mereka bahwa pasar e-commerce di Indonesia akan mencapai US$130 miliar (sekitar Rp1,7 kuadriliun) di tahun 2020. Saya pun percaya bahwa industri e-commerce di tanah air bisa lebih besar dari yang sekarang.

Karena itu, menurut saya masih akan ada ruang untuk itu. Namun melihat kondisi para pemain saat ini, kecil kemungkinan bahwa akan ada unicorn baru dari bisnis marketplace di tahun depan. Namun dua tahun lagi, kemungkinannya cukup besar.

(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

The post CFO Bukalapak Bicara Tentang Pendanaan Startup di Indonesia dan Status Unicorn appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi

Back To Top