Gogobli Siap Jadi Unicorn di 2020, Apa Saja Strateginya?


Ikhtisar

  • Gogobli mencatat peningkatan volume penjualan sebesar 2.500 persen sepanjang 2017 dan keberhasilan memikat mitra di lima belas ribu toko.
  • Jaminan produk sudah lolos sertifikasi BPOM dan Depkes RI menjadi andalan Gogobli dalam memenangkan persaingan di ranah produk kesehatan dan kecantikan.

Saat ini, ada empat startup di Indonesia yang menyandang status unicorn yakni Traveloka, GO-JEK, Tokopedia, dan Bukalapak. Sebagai salah satu platform yang fokus memasarkan produk kesehatan dan kecantikan, E-commerce produk kesehatan dan kecantikan Gogobli kepada Tech in Asia Indonesia menyatakan target mereka untuk menjadi unicorn dalam dua tahun mendatang.

Gogobli mengusung target ini setelah mereka mencatat peningkatan penjualan sebesar 2.500 persen. Menurut Chairman sekaligus Founder Gogobli, Halim H, total nilai transaksi yang mereka catat sepanjang 2017 lalu bernilai miliaran rupiah. Namun ia tak menyebut secara spesifik berapa nominalnya. Selain itu, kata Halim, Gogobli kini sudah bermitra dengan lima belas ribu toko di berbagai daerah di Indonesia hingga akhir 2017 kemarin. Mereka juga sudah menggaet lebih dari lima ratus brand principal yang memasarkan produknya secara online.

Lalu, apa yang akan dilakukan Gogobli untuk mewujudkan target menjadi startup berstatus unicorn?

Secara umum, kami akan mengoptimalkan kekuatan lokal untuk sama-sama mendorong transaksi di industri kesehatan dan kecantikan. Agar industri ini bisa lebih berkembang, lebih efisien, dan lebih menguntungkan semua pihak.

Sayangnya Halim masih enggan memaparkan rencana khusus mereka terkait pernyataan tersebut.

Founder Gogobli, Halim H (dua dari kiri), saat berfoto bersama jajaran direksi Gogobli

Meski begitu, Halim bersedia menjelaskan apa rahasia transaksi di Gogobli melonjak drastis pada tahun 2017 kemarin.

  • Kunci pertama adalah mempermudah dan memberikan solusi bagi principal, retailer, dan konsumen.
  • Menyederhankan jalur distribusi antara konsumen, toko, dan principal.
  • Melayani pembelian secara business to consumer (B2C) maupun business to business (B2B).
  • Optimalisasi aplikasi.

Halim sendiri mengatakan Gogobli akan menghadirkan aplikasi versi iOS dalam waktu dekat.

Selain iOS, aplikasi B2C juga akan hadir di 2018.

Halim H,
Chairman & Founder Gogobli

Sebagai informasi, saat ini OSK Venture International masih menjadi investor utama Gogobli. Namun Halim tak menyebutkan berapa total nilai investasi yang sudah digelontorkan OSK Venture International pada Gogobli. “Untuk investor baru, semua masih dalam proses,” ucapnya.

Promosikan keamanan dan harga bersaing

Selain mengungkapkan rencana menjadi startup unicorn, Halim juga menjelaskan strategi yang dilakukan pihaknya untuk bersaing dengan kompetitor. Di Indonesia sendiri ada startup lain yang bergerak di ranah serupa seperti Greenshop maupun Watsons.

Strategi pertama, Gogobli menjamin produk yang mereka pasarkan telah lulus uji BPOM yang mereka langsung dari distributor resminya. Untuk produk jamu dan herbal, pihaknya juga sudah mendapatkan izin dari Departemen Kesehatan RI.

Kami mengemasnya dengan aman, safe wrap, karena barang health & beauty berbeda dengan baju atau gadget. Barang ini langsung dikonsumsi atau dipakai ke tubuh. Jaminan uang kembali juga berlaku jika barang yang diterima tidak sesuai.

Selain mengedepankan keamanan produk, Halim mengatakan pihaknya juga membuat promo setiap hari sehingga harga produk-produk yang mereka tawarkan cukup bersaing. “Konsumen dapat melihat harga kami berbeda, jauh lebih murah. Tentu hal ini kami imbangi dengan layanan pengiriman yang semakin cepat,” tuturnya.

(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

This post Gogobli Siap Jadi Unicorn di 2020, Apa Saja Strateginya? appeared first on Tech in Asia.

The post Gogobli Siap Jadi Unicorn di 2020, Apa Saja Strateginya? appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi