skip to Main Content

HARA Ingin Tingkatkan Kualitas Pertanian dengan Teknologi Blockchain


Founder: Regi Wahyu
Industri:
 blockchain untuk industri pertanian
Status pendanaan:
tidak disebutkan

  • HARA mengajak para pemangku kepentingan dalam industri pertanian, seperti petani, pemasar, asesor, hingga bank, untuk berbagi data guna meningkatkan kualitas industri secara keseluruhan.
  • Pihak yang berbagi data dan berkontribusi dalam platform HARA akan diganjar dengan sejumlah token.
  • Token tersebut dapat ditukar dengan berbagai produk atau layanan tertentu pada mitra usaha yang telah bekerja sama.
  • Tak hanya pertanian, HARA juga tengah melirik sektor industri lain yang dapat diuntungkan dengan kehadiran teknologi blockchain.

button ulasan startup


Sebagai mekanisme penyimpanan data, teknologi blockchain memiliki berbagai potensi penggunaan di luar pertukaran mata uang. Pengarsipan informasi yang terdesentralisasi dan terbuka dalam teknologi blockchain dapat berguna bagi berbagai sektor lainnya, mulai dari kesehatan, pemerintahan, hingga pertanian.

Industri pertanian, misalnya, memiliki potensi yang besar di Indonesia. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebutkan nilai ekspor agrikultur Indonesia pada tahun 2017 mencapai Rp440 triliun, dengan luas lahan sawah mencapai 8,19 juta hektar. BPS juga mencatat jumlah penduduk yang bekerja di sektor agrikultur mencapai 39,6 juta orang, sekitar 31 persen dari jumlah penduduk bekerja.

Dengan produksi dan partisipan sebanyak itu, tentunya banyak informasi yang dapat digali dari industri agrikultur di Indonesia. Informasi tersebut dapat membantu berbagai stakeholder seperti petani, pemerintah, atau entitas swasta dalam memperoleh wawasan mengenai potensi dan hambatan yang dihadapi sektor agrikultur. Sayangnya, sebagian besar informasi tersebut belum didokumentasikan dan bisa diakses secara terbuka.

Indonesia merupakan dunia yang ‘gelap.’ Sebagian besar data hanya tersimpan secara offline.

Regi Wahyu,
CEO HARA

Salah satu perusahaan yang sedang berupaya membantu mengatasi masalah tersebut adalah HARA, sebuah startup asal Singapura yang memiliki visi “blockchain demi kepentingan sosial”. Startup ini bertujuan menyediakan sarana pertukaran data melalui blockchain bagi berbagai partisipan dalam industri pertanian, mulai dari petani, bank, pemasar, perusahaan asuransi, serta credit scoring.

HARA telah melewati tahapan uji coba pengumpulan data pertama dan sedang menjalani proses verifikasi data awal. Platform buatannya telah diluncurkan kepada mitra tertentu pada kuartal kedua tahun 2018, serta hendak diluncurkan sebagai minimum viable product pada kuartal pertama tahun 2019.

Cara HARA menghubungkan penyedia dan pengguna data

HARA membagi stakeholder dalam ekosistem pertukaran data menjadi empat kategori, yaitu:

  • Penyedia data yang memberikan data near-time,
  • Penilai data yang bertugas meninjau dan memverifikasi data,
  • Layanan nilai tambah yang mengolah serta menerjemahkan data mentah menjadi laporan, dan
  • Para pembeli data yang membutuhkan data sebagai insight untuk melaksanakan tujuan masing-masing.
Interaksi antara penyedia, pembeli dan peninjau data dalam model HARA

Interaksi antara penyedia, pembeli dan peninjau data dalam model HARA. Sumber: HARA.

Mitra yang ditargetkan HARA sebagai penyedia data meliputi petani, LSM, perusahaan data, serta relawan di lapangan. Sementara itu, penilai data serta layanan tambahan akan datang dari pihak ketiga seperti institusi akademik, perusahaan penelitian, hingga individu. Salah satu perusahaan riset yang telah menjadi mitra pengolah data HARA adalah BOI Research Services.

Data yang dihimpun oleh HARA meliputi lima kategori, yaitu:

  • Data umum terkait identitas dan latar belakang petani,
  • Data hasil geo-tagging seperti luas dan lokasi lahan,
  • Aktivitas pertanian seperti produk yang ditanam dan kuantitas panen,
  • Data terkait ekologi seperti cuaca dan karakteristik tanah, serta
  • Data terkait pasar, harga dan transaksi.

Data tersebut akan disimpan dengan enkripsi melalui sistem blockchain agar dapat ditinjau oleh para penilai data dan diakses oleh pembeli data. Ketika pembeli ingin mengakses data, penyedia data yang bersangkutan akan mendapatkan notifikasi serta paparan tujuan penggunaan data tersebut. Transaksi data kemudian hanya akan dilaksanakan atas persetujuan penyedia data yang bersangkutan.

Karena pada dasarnya semua pemangku kepentingan memiliki data dan membutuhkan data.

Imron Zuhri,
CTO HARA

HARA memproyeksikan bahwa data yang mereka himpun dapat digunakan untuk berbagai macam tujuan. Perusahaan asuransi, misalnya, dapat menyediakan paket asuransi tani yang lebih efektif berdasarkan data cuaca dan tanah di lapangan. Pemasar bahan makanan juga dapat menyediakan informasi yang lebih lengkap mengenai rantai produksi mereka kepada pelanggan.

Mendorong partisipasi stakeholder melalui insentif

Selain untuk mendokumentasikan data, HARA juga menggunakan blockchain untuk memberikan insentif pagi penyedia dan penilai data. Insentif tersebut diberikan melalui HARA Token, sebuah token berbasis ERC-20 yang dapat digunakan untuk transaksi pertukaran data di ekosistem HARA.

Alokasi distribusi HARA Token yang direncanakan

Alokasi distribusi HARA Token yang direncanakan. Sumber: HARA.

 

Berbeda dengan cryptocurrency secara umum, HARA menegaskan bahwa HARA Token merupakan utility token yang dapat mewakilkan alat tukar untuk suatu produk atau layanan tertentu. Penyedia data seperti petani, misalnya, dapat menukarkan HARA Token dengan produk seperti pulsa seluler atau kebutuhan rumah tangga dari mitra lokal yang telah bekerja sama dengan HARA.

Para penyedia data akan mendapatkan insentif berupa HARA Token ketika mereka berpartisipasi memberikan data. Masing-masing penilai data juga akan mendapatkan insentif serupa ketika mereka melaksanakan kualifikasi terhadap data, penyedia data, maupun penilai lainnya.

Menurut HARA, total persediaan HARA Token saat ini mencapai 1,2 miliar token. Sejumlah 540 juta token, atau 45 persennya, akan diperjualbelikan dalam penjualan token perdana untuk menggalang dana operasional. Sisanya akan didistribusikan untuk dana pertumbuhan platform, kas, tim, serta stakeholder lainnya.

Penjualan HARA Token secara tertutup telah dimulai pada 25 Juni 2018. HARA berencana melaksanakan penawaran publik pada tanggal 1 September 2018, sebelum ditutup pada 15 September 2018.

Operasi di Indonesia dan rencana selanjutnya

Menurut HARA, pertimbangan mereka dalam memilih tempat beroperasi adalah negara dengan peran industri pertanian yang besar, terutama di negara-negara di sekitar garis khatulistiwa. Mereka juga mempertimbangkan penetrasi penggunaan perangkat mobile yang tinggi untuk menunjang partisipasi dari penyedia dan penilai data.

Berdasarkan kriteria tersebut, HARA menemukan bahwa Indonesia merupakan lokasi yang cocok untuk pilot project. Sejauh ini, HARA telah mengunjungi berbagai desa dan kecamatan di lima kabupaten, yakni:

  • Sumbawa Besar di Nusa Tenggara Barat,
  • Bima di Nusa Tenggara Barat,
  • Kupang di Nusa Tenggara Timur,
  • Situbondo di Jawa Timur, dan
  • Bojonegoro di Jawa Timur.

Dari berbagai lokasi tersebut, HARA telah menjalin hubungan kerja sama dengan sekitar tiga ribu petani sebagai penyedia data. Ke depannya, mereka menargetkan peningkatan hingga 75.000 petani pada akhir tahun 2018 dan 2 juta penyedia data di berbagai negara pada tahun 2020.

Meskipun untuk jangka pendek HARA berencana bergerak di bidang agrikultur di Indonesia, mereka sudah merencanakan ekspansi ke sektor dan negara lain. Beberapa sektor yang sedang dipertimbangkan adalah kesehatan, transportasi, pendidikan, dan rekreasi secara bertahap.

Sementara itu, mereka menargetkan ekspansi ke negara dengan kondisi sosial ekonomi serupa dengan Indonesia. Saat ini, HARA telah memulai negosiasi dengan berbagai mitra potensial di Thailand, Vietnam, Bangladesh, Kenya, Uganda, Meksiko, dan Peru.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post HARA Ingin Tingkatkan Kualitas Pertanian dengan Teknologi Blockchain appeared first on Tech in Asia.

The post HARA Ingin Tingkatkan Kualitas Pertanian dengan Teknologi Blockchain appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi

Back To Top