skip to Main Content

Mengupas Latar Belakang di Balik Kehadiran Program Mitra Bukalapak

Ikhtisar

  • Bukalapak menghadirkan layanan baru bernama Mitra Bukalapak yang memungkinkan individu dan pemilik warung untuk menjadi mitra mereka.
  • Para mitra tersebut bisa menjual berbagai produk yang tersedia di Bukalapak secara offline.
  • Tujuan layanan ini adalah agar para calon pembeli yang tidak mempunyai akses internet atau takut melakukan transaksi online tetap bisa menggunakan layanan Bukalapak.
  • Para mitra Bukalapak tersebut bisa mendapatkan keuntungan berupa komisi dari transaksi yang berlangsung.

Pada akhir bulan September 2018 lalu, Presiden Bukalapak Muhamad Fajrin Rasyid menyatakan kepada Bloomberg bahwa mereka telah menggandeng lebih dari tiga ratus ribu pemilik warung untuk bergabung dengan layanan baru bernama Mitra Bukalapak.

Kabar ini cukup mengagetkan banyak orang yang selama ini mengira Bukalapak hanya akan fokus mengembangkan e-commerce online saja, tanpa melibatkan toko offline.

Apa sebenarnya latar belakang di balik pembuatan program Mitra Bukalapak dan bagaimana rencana pengembangan bisnis Bukalapak? Mari simak penjelasan berikut ini.

Berawal dari coretan sang Founder dua tahun lalu

Bukalapak Unicorn

Mitra Bukalapak sendiri merupakan program yang memungkinkan individu dan pemilik warung untuk menjadi mitra. Para mitra tersebut bisa menjual berbagai produk yang tersedia di Bukalapak, mulai dari barang kebutuhan sehari-hari, pulsa telepon, hingga tiket pesawat.

Para calon pembeli yang tidak mempunyai akses internet, atau takut untuk melakukan transaksi online, bisa langsung menemui para pemilik warung tersebut yang kemudian akan membelikan barang di Bukalapak. Dari aktivitas tersebut, para individu dan pemilik warung bisa mengambil sebagian komisi untuk keuntungan mereka.

Menurut Chief Strategy Officer Bukalapak, Teddy Oetomo, rencana membuat program ini sebenarnya telah ada sejak tahun 2016. Ide tersebut muncul dari Founder Bukalapak Achmad Zaky. Di awal tahun 2017, barulah mereka mulai mengembangkan aplikasi dan merekrut mitra.

Awalnya program ini kami beri nama Agen Bukalapak, namun kami mengubahnya untuk menghilangkan stigma negatif terkait kata agen.

Achmad Zaky,
CEO Bukalapak

Program ini semula dibuat untuk meningkatkan penetrasi digital. Kehadiran agen di berbagai tempat diharapkan bisa memudahkan orang-orang yang tidak mempunyai rekening bank atau smartphone berbelanja di Bukalapak.

Namun, seiring berjalannya waktu, Bukalapak menyadari bahwa solusi seperti ini justru bisa mengatasi masalah lain.

“Sekitar tahun 2016 dan 2017, kami menyadari bahwa UKM yang bisa menjadi penjual di Bukalapak jumlahnya terbatas. Banyak usaha kecil tidak bisa melayani seluruh pengguna di Bukalapak yang kini telah mencapai lima puluh juta orang. Entah karena kapasitas produksi mereka terbatas atau produknya sama dengan warung lain.”

Menurut Teddy, untuk jenis usaha seperti warung, akan lebih baik kalau mereka tetap melayani lingkungan kecil seperti biasa. Namun mereka dapat melengkapi usahanya dengan dukungan teknologi dari Bukalapak.

Berawal dari kemunculan Kudo

Agen-Kudo-Ilustrasi 1

Ilustrasi agen Kudo

Teddy mengakui bahwa apa yang mereka lakukan dengan Mitra Bukalapak bukanlah sesuatu hal baru. Telah ada startup seperti Kudo yang melakukan hal serupa sebelumnya.

Hal menarik dari program ini adalah Bukalapak tidak hanya membuat aplikasi khusus untuk para mitra, namun juga menghadirkan dukungan dari sisi pergudangan, distribusi, dan logistik. Tujuannya agar para mitra bisa mendapatkan produk dengan harga lebih murah, cepat, dengan jumlah stok terjamin.

Untuk itu, mereka menggandeng empat perusahaan besar. Dari kerja sama tersebut, Bukalapak bisa memanfaatkan 25 gudang yang tersebar di sekitar dua puluh kota besar.

Menurut Zaky, Mitra Bukalapak merupakan model bisnis yang baik. Ia mengaku sudah bisa menghasilkan profit dari bisnis tersebut.

Program Mitra Bukalapak ini sendiri dikelola oleh sekitar seratus hingga dua ratus karyawan. Sekitar dua puluh orang di antaranya merupakan tim inti yang mengembangkan model bisnis dan layanan, sedangkan sisanya merupakan tim operasional yang bertugas menggaet mitra baru di lapangan.

Berikut adalah perkembangan Bukalapak dan program Mitra Bukalapak hingga saat ini:

  • Jumlah Mitra Bukalapak: 1 juta mitra, terdiri atas 300.000 warung dan 700.000 agen individu.
  • Nominal transaksi: lebih dari US$500 juta (sekitar Rp7,6 triliun) dalam setahun terakhir.

Teddy mengaku belum terlalu puas dengan pencapaian tersebut. Menurutnya, mereka masih berada pada tahap awal. Ke depannya, mereka ingin memiliki lebih banyak mitra dan produk untuk dijual, serta meningkatkan pengembangan dari sisi teknologi.

Masa depan Bukalapak?

Kita tidak bisa nyaman dengan kondisi sekarang. Kita harus melakukan disrupsi.

Acmad Zaky,
CEO Bukalapak

Bukalapak sendiri mempunyai empat pilar utama dalam bisnis mereka, yaitu marketplace, non-marketplace, end user, dan Mitra Bukalapak.

Teddy menututkan bahwa mereka memiliki pasar yang sangat potensial. Lebih lanjut ia menjelaskan Net Merchandise Value (NMV) Bukalapak naik 180 persen bila dibandingkan tahun lalu, dengan jumlah transaksi mencapai 500.000.

Zaky pun mengamini hal tersebut. Menurutnya, kehadiran Mitra Bukalapak tidak akan mengganggu fokus ke layanan mereka yang lain. Ia sendiri terus mencoba menghadirkan berbagai inovasi baru yang bisa membuat Bukalapak jauh lebih besar dari sekarang.

(Diedit oleh Fairuz Rana Ulfah)

This post Mengupas Latar Belakang di Balik Kehadiran Program Mitra Bukalapak appeared first on Tech in Asia.

The post Mengupas Latar Belakang di Balik Kehadiran Program Mitra Bukalapak appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi

Back To Top