8 Startup Indonesia Favorit Editorial Tech in Asia Indonesia di 2017

Di sepanjang tahun ini, Tech in Asia Indonesia telah mengulas ratusan startup baru. Beberapa di antara mereka berhasil menarik perhatian tim Editorial. Memilih startup favorit dari sekian banyak startup baru bukanlah hal yang mudah. Namun, ide mereka yang unik, upaya mereka menjawab masalah, serta potensi bisnis di Indonesia membuat kami menjatuhkan pilihan pada kedelapan startup ini.

Jadi, siapa saja startup favorit versi tim Editorial Tech in Asia Indonesia? Berikut ini adalah ulasannya!


Pradipta Nugrahanto

Me-Lody

Me-Lody | Screenshot

Meski startup di ranah musik belum memperlihatkan tanda-tanda naik daun di tahun 2017, bukan berarti tidak ada celah untuk menembus pasar Indonesia. Adalah Teguh Sanjaya, sosok yang namanya tidak asing di telinga, terlebih kalau kamu merupakan seorang penggemar JKT48, membuat startup Me-Lody.

Tidak mengambil ceruk layanan streaming, startup yang turut memamerkan produknya di Tech in Asia Jakarta 2017 ini justru memanfaatkan peluang dari banyaknya orang yang gemar membuat cover version dari berbagai lagu.  Para pengunggah lagu versi mereka ini juga akan mendapatkan jalan karier yang lebih baik bila ternyata popularitas mereka terbukti.

Dari sisi para pelaku label musik dan produser, keberadaan layanan yang aplikasinya sudah hadir di platform Android ini juga bisa membantu dalam proses pencarian artis pendatang baru yang potensial tanpa memerlukan proses audisi off-air yang memakan waktu dan biaya.


John Patrick Manuwu

Buddy Guard

BuddyGuard | Screenshot

Berangkat dari pengalaman seorang kawan yang rumahnya pernah kerampokan, saya rasa startup seperti Buddy Guard ini berhak untuk mendapatkan sorotan lebih dari khalayak ramai. Buddy Guard hadir untuk mempopulerkan kembali upaya siskamling (Sistem Keamanan Lingkungan) di lingkungan warga — dengan memanfaatkan teknologi digital tentunya.

Buddy Guard memiliki sebuah aplikasi yang bekerja layaknya sebuah tombol darurat (panic Button), ketika seseorang merasa bahwa keselamatannya sedang terancam, ia akan menekan tombol tersebut untuk memberitahukan pengguna aplikasi Buddy Guard lain untuk segera bertindak. Tidak hanya sebagai tombol darurat fungsi lain dari aplikasi ini di antaranya:

  • Pemantau anggota keluarga
  • Pencari nomor telepon darurat
  • Membuat grup siskamling antar pengguna
  • Memantau apakah sebuah rombongan ada yang tertinggal atau hilang lewat fitur Tour-Guard

Digitalisasi teknologi keamanan personal seperti ini saya rasa sangat potensial — baik di daerah urban ataupun pedesaan — apalagi mengingat bahwa belakangan ini tingkat kriminalitas di tanah air tak kunjung menurun. Untuk pengembangannya, saya rasa startup ini nantinya dapat bekerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia agar polisi tidak lagi perlu menunggu laporan yang seringkali datangnya terlambat. Selain itu, integrasi dengan sistem peringatan dini bencana juga dapat membantu para pengguna untuk tetap tenang menghadapi kondisi darurat.

Tertarik untuk mengetahui startup ini lebih lanjut? Silakan mengunjungi situs resmi Buddy Guard.


Risky Maulana

Mallsampah

Mallsampah | Photo

Penanggulangan masalah lingkungan hidup, khususnya soal sampah merupakan hal menarik untuk dicarikan solusinya oleh startup di Indonesia. Permasalahan inilah yang ditekuni oleh Mallsampahstartup asal Makasar yang fokus terhadap pengelolaan sampah di kawasan rumah dan perkantoran.

Lahir dari dorongan untuk menciptakan lingkungan pengelolaan sampah yang lebih baik, Mallsampah mencoba menggeser kebiasaan buang sampah masyarakat lewat kampanye mengubah sampah menjadi berkah. “Kami memiliki misi agar setiap orang bisa menjual, mendaur ulang, dan mengelola sampah dengan mudah, gratis dan menguntungkan, sehingga orang tidak membuat sampah lagi,” ungkap Adi Saifullah Putra, CEO dari Mallsampah.

Mallsampah sendiri bukan satu-satunya startup lokal yang fokus terhadap pengelolaan sampah berbasis teknologi informasi di Indonesia. Selain mereka, ada juga beberapa nama-nama startup lain seperti EcoCash yang fokus terhadap pengelolaan sampah elektronik saja, Zwaster (startup bank sampah jebolah Indigo Creative Nation 2016), Smash, dan Angkuts dari Pontianak.

Dengan berafiliasi bersama lebih dari seratus pengepul sampah di kota Makassar, Mallsampah mengklaim telah menyelesaikan puluhan transaksi daur ulang sampah per harinya. Atas perjuangan mereka untuk mengubah perspektif buruk mengenai tata kelola sampah di kawasan timur Indonesia, Mallsampah diganjar penghargaan Social Enterprise Startup of the Year di ajang ASEAN Rice Bowl Startup Award, Kuala Lumpur, Malaysia pada 13 Desember 2017 lalu.


Aditya Hadi Pratama

CelenganID

CelenganID | Screenshot

Berawal dari kepedulian mengenai kembalian uang koin dari transaksi sehari-hari yang sering kali tidak digunakan kembali untuk bertransaksi, Wawan B. Setyawan bersama dua rekannya, Arie Liyono dan Andini E. Hapsari, berinisiatif mendirikan startup bernama CelenganID pada 5 Agustus 2017.

Mereka menawarkan layanan penukaran uang koin menjadi uang digital melalui agen-agen mereka. Uang digital itu nantinya bisa digunakan kembali untuk berbelanja di beberapa merchant mitra CelenganID, atau ditransfer ke rekening bank pengguna.

Saat ini, mereka telah melakukan monetisasi dengan cara mengambil komisi dari tiap transaksi merchant mitra yang menerima pembayaran menggunakan platform mereka.


Danang Setiaji

Triplogic

Triplogic | Ilustrasi

Ketika mendirikan Triplogic pada Mei 2017, Oki Earlivan Sampurna melihat ada kebutuhan yang saling berkaitan antara penumpang pesawat dan kebutuhan pengiriman barang yang cepat.

Penumpang pesawat tak bisa meminta refund atau kompensasi atas bagasi kosong tak terpakai ketika menumpang pesawat.

Padahal, kata Oki, itu merupakan hak penumpang. Sementara di sisi lain, ada pihak yang menginginkan kecepatan dalam pengiriman barang, seperti toko online.

Triplogic hadir untuk menjembatani kebutuhan tersebut. Traveler bisa memberdayakan bagasi kosong yang menjadi hak mereka agar bisa menghasilkan uang, sementara di sisi lain bisa membantu mereka yang menginginkan pengiriman cepat dengan harga terjangkau. Untuk tarifnya, Triplogic hanya memiliki tiga kelas berdasarkan lamanya durasi perjalanan. Tiga kelas itu yakni perjalanan pesawat dengan durasi 1,5 jam; perjalanan dengan durasi 1,5 hingga 2,5 jam; dan durasi perjalanan di atas 2,5 jam.

Tarif termurah yakni perjalanan 1,5 jam dipatok Rp35 ribu per dua kilogram. Sedangkan perjalanan 1,5 hingga 2,5 jam dipatok Rp40 ribu per dua kilogram, dan perjalanan di atas 2,5 jam dipatok Rp45 ribu per dua kilogram.


Ayyub Mustofa

Kata.ai

Kata.ai | Photo 1

Kata.ai sebetulnya bukan startup yang benar-benar baru, melainkan hasil pivot dari YesBoss. YesBoss menutup layanan asisten pribadi virtual mereka pada akhir Oktober 2016, kemudian meluncurkan platform kecerdasan buatan Kata.ai di awal 2017 dalam bentuk Software as a Service (SaaS). Tak lupa mereka menggandeng pakar keamanan IT dan Natural Language Processing (NLP), Jim Geovedi, sebagai Technology Advisor.

Langkah YesBoss beralih ke bidang kecerdasan buatan (AI) terbilang sangat tepat, karena tren teknologi saat ini tengah bergerak ke arah sana. Perusahaan-perusahaan besar seperti Google, Amazon, dan LINE pun gencar mengembangkan AI dalam wujud asisten virtual. Kini asisten virtual dapat kita temukan di berbagai perangkat umum, mulai smartphone, speaker, bahkan mobil.

Sejauh ini Kata.ai telah berhasil meluncurkan beberapa solusi berskala enterprise, antara lain chatbot “Jemma” untuk Unilever dan chatbot “Veronika” untuk Telkomsel. Semoga saja Kata.ai dapat bersaing dengan raksasa-raksasa AI dunia, dan memberi perubahan positif bagi kehidupan masyarakat Indonesia di masa depan.


Septa Mellina

Mendekor

Situs Mendekor - Screenshot

Tampilan situs Mendekor

Mendekor merupakan e-commerce yang menyediakan berbagai furnitur dan dekorasi ruangan buatan para perajin lokal. Beberapa fitur Mendekor antara lain:

  • ide dekorasi berdasarkan jenis ruangan
  • gaya desain, mulai dari gaya scandinavian, industrial, hingga vintage

Desain fitur kategorisasi yang intuitif dan sederhana sangat memudahkan saya untuk mengeksplorasi fitur lebih jauh. Ini adalah alasan pertama saya menjagokan startup besutan Brian Karno Jan.

Selain di situs Mendekor, kamu juga bisa membeli produk mereka di lebih dari sepuluh marketplace di Indonesia, seperti TokopediaBlibli, dan Bukalapak.

Kemudian saya bertanya-tanya: e-commerce kenapa berjualan juga di platform marketplace tetangga?

Brian mengatakan pihaknya memang sengaja menggandeng sejumlah marketplace untuk menjangkau pasar yang lebih luas dengan memanfaatkan traffic marketplace tersebut. Jadi, tidak heran kalau lebih dari dua belas ribu produk Mendekor ludes terjual di Tokopedia. Hem, strategi yang masuk akal juga.

Tapi, pertanyaan berikutnya pun muncul di benak saya: Kalau di penjualan di Tokopedia laris manis, bagaimana dengan transaksi di situs Mendekor.com sendiri? 

Brian mengaku penjualan di marketplace memang lebih besar daripada penjualan di situs Mendekor sendiri, karena traffic marketplace yang jauh lebih besar dari situs Mendekor. Meski demikian, Brian ogah menjadikan marketplace tersebut sebagai pesaing. Perspektif Brian ini pun menjadi alasan kedua saya menjagokan Mendekor.

Kami tidak mencoba menyaingi traffic marketplace tersebut karena butuh investasi yang sangat besar. Daripada bersaing, lebih baik kami menjadikan mereka partner dalam memasarkan produk kami agar lebih mudah dijangkau oleh masyarakat Indonesia.

Brian Karno Jan,
Founder Mendekor

Iqbal Kurniawan

Littly

Littly | Screenshot

Keberadaan uang logam di Indonesia sering menuai masalah bagi para pemiliknya. Dengan nominal yang kecil, sering kali uang logam dari kembalian tidak bisa langsung dipakai untuk bertransaksi karena nilai belinya yang sangat rendah.

Mirip dengan CelenganID, Littly juga berusaha mengatasi masalah uang logam tersebut dengan mengubahnya jadi uang elektronik. Dengan menyerahkan sejumlah uang logam ke para agennya, pengguna bisa mendapatkan saldo uang dalam aplikasi Littly untuk dipakai bertransaksi di sejumlah toko mitra.

Tak hanya mengandalkan agen, Littly juga berencana membangun alat pengumpul koin otomatis yang bisa dipakai para penggunanya untuk mengubah uang logam menjadi uang digital. Perangkat IoT tersebut hendak ditempatkan di sejumlah lokasi yang mudah dijangkau para pengguna, seperti tempat ibadah umum atau stasiun.


Apakah startup andalanmu juga masuk ke dalam daftar ini? Jika kamu punya startup favorit lainnya, silakan bagikan di kolom komentar.

(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto

This post 8 Startup Indonesia Favorit Editorial Tech in Asia Indonesia di 2017 appeared first on Tech in Asia.

The post 8 Startup Indonesia Favorit Editorial Tech in Asia Indonesia di 2017 appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi