Algoritma Berniat Jawab Tantangan Kebutuhan Data Scientist di Indonesia


Founder: Samuel Chan, Nayoko Wicaksono
Industri: pendidikan, data scientist
Status pendanaan: seed funding

  • Algoritma adalah lembaga pendidikan yang bermisi menyediakan akses terhadap pengembangan karier data science yang lebih luas kepada masyarakat,
  • Seluruh proses pengajaran di Algoritma lewat paket kursus dengan harga yang fleksibel, mulai dari bulanan hingga per semester dengan harga mulai Rp5-15 juta.

button ulasan startup


Tidak dapat disangkal bahwa saat ini kebutuhan data scientist telah menjadi satu di antara sekian kebutuhan penting bagi perkembangan industri modern,  termasuk di Indonesia. Bidang keilmuan modern yang makin memasyarakat ini tidak hanya bisa diterapkan oleh pelaku di sektor bisnis saja, tetapi juga oleh pemerintah, kesehatan, industri keuangan, jasa, dan lain sebagainya.

Meskipun krusial, namun dalam perkembangannya, kebutuhan analisis data yang masih jauh dari kata terpenuhi di Indonesia. “Ada jurang pemisah yang cukup lebar antara permintaan dan jumlah tenaga di Indonesia,” ujar mantan CEO Hypergrowth Samuel Chen yang di pertengahan 2017 memutuskan keluar dari perusahaannya untuk membangun startup baru.

Data Science | Screenshot

Melihat adanya peluang dalam mengisi ceruk kekosongan pengajar data scientist, Samuel Chen bersama koleganya, Nayoko Wicaksono kemudian memutuskan untuk fokus mengembangkan lembaga pendidikan  data science lokal bernama Algoritma.

Dengan misi menyediakan akses terhadap pengembangan karier data science yang lebih luas kepada masyarakat, Algoritma pun hadir untuk menghapus persepsi bahwa tenaga data science terbaik hanya bisa didapatkan di luar negeri.

Jeli melihat peluang yang sesuai kebutuhan pasar

Berhasil membesarkan HyperGrowth tidak lantas membuat Samuel Chen berpuas diri dengan pencapaian yang ia peroleh selama tiga tahun belakangan. Tanpa penjelasan secara terperinci, Samuel terlihat memiliki tekad untuk exit dan mengejar peluang lainnya berdasarkan kondisi yang ia temukan di Indonesia saat ini.

Dari situasi yang ada, Samuel melihat saat ini Indonesia memerlukan entitas yang secara khusus mendedikasikan dirinya untuk mencari solusi dari kurang terpenuhinya kebutuhan akan data scientist di lapangan.

“Bila kamu menyempatkan diri melihat kebutuhan lowongan kerja di bidang data , kamu bisa melihat kurangnya ketersediaan SDM ini memberikan peluang bagus bagi mereka yang tertarik berkarier di ranah analisis data,” tegas Samuel.

Untuk mewujudkan visinya, Samuel kemudian menggandengCo-Founder Seekmi Nayoko Wicaksono,  yang sebelumnya ikut tergabung sebagai VP Plug and Play Indonesia. Dengan menunjuk Nayoko sebagai Co-Founder sekaligus Advisor untuk pengembangan bisnis Algoritma, Samuel resmi mendirikan startup barunya di bulan Juni 2017 lalu.

Algoritma | Photo 1

Bertekad runtuhkan anggapan karier data science yang ekslusif

Secara spesifik, kemampuan mengolah data tidak cukup hanya digunakan untuk memahami perilaku konsumen saja, tetapi juga sebagai bahan pertimbangan krusial bagi pengambilan keputusan perusahaan di masa mendatang.

Kebutuhan akan kemampuan olah data ini akan semakin krusial seiring makin besarnya perkembangan perusahaan bersangkutan. Hal ini bisa dilihat dari beberapa contoh startup besar seperti GO-JEK, Lazada, Traveloka, Kudo, dan lainnya.

Samuel menjelaskan bahwa kurang terpenuhinya kebutuhan yang demikian besar tadi mendorong beberapa startup besar untuk mencari SDM di luar wilayah Indonesia. Hal tersebut secara tidak langsung memberikan anggapan seolah menggali karier sebagai data science  adalah sesuatu sulit jika tidak melalui perguruan tinggi yang bagus.

“Padahal sebaliknya, data scientist adalah ilmu yang masih bisa diajarkan kepada orang awam. Tugas kami adalah menghilangkan anggapan tersebut sehingga siapa saja bisa berkarier di bidang ini. Jika kamu belum bisa melakukan coding, sudah menjadi keharusan bagi kami untuk mengajarkanmu hal itu agar bisa menjadi data scientist yang berkualifikasi,” ujar Samuel kepada Tech in Asia Indonesia.

 Algoritma | Photo 2

Ajarkan pentingnya komputasi pengolahan data secara modern

“Dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir, pengembangan data telah mencapai perubahan yang demikian besar, namun bagi sebagian kalangan orang di Indonesia, data terkadang hanya dilihat sebagai tumpukan kolom Excel yang kurang terlihat menarik, sehingga tidak begitu efisien untuk diolah kembali,” ungkap Samuel.

Seiring dengan makin besar dan beragamnya aset data yang dikumpulkan, akhirnya sebuah program seperti Excel tidak akan mampu menampung jutaan data lagi, dan kebutuhan akan tenaga data analis yang terampil akan muncul dan meningkat.

Algoritma | Photo 3

Algoritma sendiri mendorong pengenalan tool baru sebagai kiat menghadapi data dalam jumlah banyak ini melalui pengembangan produk seperti workshop dan bootcamp.

Lewat program edukasi yang mereka tawarkan, peserta diajari melakukan  input data secara individual dengan bantuan tenaga terlatih dan tools komputasi mutakhir yang telah menjadi standar kebutuhan data science saat ini. Seluruh proses pengajaran ini dilakukan lewat paket kursus dengan harga yang fleksibel, mulai dari bulanan hingga per semester dengan harga mulai Rp5-15 juta.

Selain menyasar kalangan individual, Algoritma sendiri juga menargetkan korporasi maupun lembaga lainnya sebagai audiens pengajaran data science melalui program pelatihan secara berkala.

Sejauh ini pihak Algoritma mengklaim telah mendidik lebih dari 300 orang dari program workshop yang mereka adakan sebanyak lima kali dalam seminggu. Sejumlah korporasi besar seperti JAPFA, startup, hingga institusi pemerintahan juga telah mengirimkan delegasi mereka untuk mempelajari manfaat data science bagi instansi masing-masing.

Melalui program yang mereka hadirkan, Algoritma mengharapkan para peserta mereka bisa menemukan karier yang tepat dalam ilmu pengolahan data, dengan mendidik mereka dengan keterampilan yang dibutuhkan dan dicari saat ini.


Algoritma bukan satu-satunya “startup” lembaga pendidikan yang fokus untuk mengelola perkembangan SDM untuk keperluan tumbuh kembang ekosistem digital di Indonesia.

Selain Algoritma, ada pula Hacktiv8, Codago, dan ImpactByte, yang lebih berfokus kepada proses coding (untuk menghasilkan developer dan programmer berkualitas). Di luar keempat startup tadi, ada juga Dicoding Academy, yang merupakan bagian dari platform pengembangan aplikasi di Indonesia, Dicoding.

(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

The post Algoritma Berniat Jawab Tantangan Kebutuhan Data Scientist di Indonesia appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi