Gobi Partners Hadirkan Investasi Meranti untuk Bantu Pendanaan Seri B dan C pada Startup


Ikhtisar

  • Fokus Gobi Partners saat ini adalah pada startup yang bergerak di bisnis cloud computing, e-commerce, fintech, hingga startup yang menargetkan para konsumen muslim.

Pada pertengahan Agustus 2017, perusahaan modal ventura (VC) Gobi Partners mengumumkan bahwa mereka telah berhasil mendapatkan dana investasi terbaru sebesar US$50 juta (sekitar Rp666 miliar). Dana tersebut merupakan bagian pertama dari keseluruhan dana investasi sebesar US$200 juta (sekitar Rp2,6 triliun) bernama Meranti ASEAN Growth Fund, yang tengah mereka kumpulkan.

Nama Meranti sendiri diambil dari nama sebuah pohon tertinggi di hutan Asia Tenggara. Malaysia Venture Capital Management (MAVCAP), perusahaan asal Korea GS Shop, serta lembaga investasi asal Indonesia CKM, merupakan beberapa investor awal yang telah memberikan uang investasi dan menjadi limited partner (LP) dari dana investasi tersebut.

Dana investasi tersebut rencananya akan mereka investasikan kembali kepada para startup Asia Tenggara yang tengah berada dalam tahap pendanaan Seri B dan Seri C, dengan nominal US$5 juta hingga US$20 juta (Rp66 miliar hingga Rp266 miliar) di setiap pendanaan. Mereka akan fokus pada startup yang bergerak di bisnis cloud computing, e-commerce, fintech, hingga startup yang menargetkan para konsumen muslim.

E-Commerce fesyen tanah air Sale Stock, menjadi startup pertama yang mendapat dana dari Meranti ASEAN Growth Fund lewat pendanaan Seri B Lanjutan sebesar US$27 juta (sekitar Rp360 miliar) yang mereka umumkan pada tanggal 16 Agustus 2017 yang lalu.

Meranti ASEAN Growth Fund ini menjadi dana investasi keempat yang dikumpulkan Gobi Partners untuk para startup di Asia Tenggara. Hingga tahun 2017, mereka telah membuat sembilan dana investasi.

Mengisi celah pendanaan di Asia Tenggara

pendanaan | featured image

Menurut Founding Partner dari Gobi Partners Thomas Tsao, dana investasi Meranti ini ia kumpulkan demi mengisi kurangnya pendanaan Seri B dan Seri C untuk startup Asia Tenggara yang berada di tahap perkembangan (growth stage). Kebanyakan VC di wilayah ini justru banyak memberikan pendanaan untuk startup di tahap awal (Seed Funding dan Seri A), serta di tahap lanjutan (Seri D, Seri E, dan seterusnya).

Di Cina, kami masih terus fokus memberikan pendanaan Seri A. Namun kami melihat kesempatan (untuk memberikan pendanaan Seri B dan Seri C) di Asia Tenggara, dan merasa bahwa kami bisa mengisi celah tersebut,

Thomas Tsao,
Founding Partner Gobi Partners

Bila dibuat grafik, maka pendanaan di ekosistem startup Asia Tenggara ini akan berbentuk seperti barbel. Itulah mengapa Tsao menyebut kondisi ini sebagai Barbel Funding.

“Bukannya tidak ada startup yang bagus untuk diberi investasi. Namun investor saja yang belum bisa mengejar ketertinggalan,” ujar Tsao.

Beberapa negara di Asia Tenggara telah sadar bahwa startup merupakan salah satu pendorong perkembangan ekonomi. Itulah mengapa mereka kemudian mulai mendorong investasi untuk startup tahap awal. Namun beberapa startup yang mendapat pendanaan tersebut justru kesulitan untuk mendapatkan pendanaan lanjutan.

Menurut Tsao, inilah waktunya pihak swasta untuk masuk dan memberi bantuan. “Di Cina, kami masih terus fokus memberikan pendanaan Seri A. Namun kami melihat kesempatan (untuk memberikan pendanaan Seri B dan Seri C) di Asia Tenggara, dan merasa bahwa kami bisa mengisi celah tersebut,” tutur Tsao.

Barbel Funding di Asia Tenggara

Kurangnya pendanaan Seri B di Asia Tenggara sebenarnya telah masuk dalam pengamatan beberapa investor. Data dari Pitchbook menunjukkan bahwa persentase pendanaan tahap awal di Asia Tenggara lebih besar dibanding wilayah lain di dunia.

Inilah persentase jumlah pendanaan yang diumumkan di Asia Tenggara antara tahun 2013 dan 2016:

Meranti SEA Funding 2013 2016

Bandingkan dengan tren yang sedang terjadi di seluruh dunia pada periode yang sama:

Meranti World Funding 2013 2016

Data Tech in Asia juga menunjukkan hal yang sama. Di pertengahan pertama tahun 2017, pendanaan untuk startup Asia Tenggara tampak menurun dibandingkan periode yang sama di tahun 2016. Pendanaan Seri B mengalami penurunan terbesar:

Meranti SEA Funding

Sebaliknya, pendanaan Seri A dan Seri D justru mengalami pertumbuhan. Hal ini seperti menjadi pendukung untuk pendapat Tsao tentang Barbel Funding di atas.

Para investor telah mengeluarkan banyak uang untuk para startup tahap awal di Asia Tenggara selama beberapa tahun terakhir. Para startup tersebut kini akan mencari tambahan modal yang bisa mendorong pertumbuhan mereka.

Di sisi lain, pendanaan Seri B sering dipandang sebagai tahap yang paling sulit untuk didapat, dan hal tersebut benar-benar terjadi di Asia Tenggara. Mayoritas pendanaan tersebut di wilayah ini justru dilakukan oleh perusahaan Non-VC seperti Alibaba, SoftBank, hingga Tencent. Dengan kemunculan dana investasi Meranti milik Gobi Partners, dan hal serupa dari Venturecraft, para modal ventura di wilayah ini sepertinya mulai mengubah taktik mereka.

(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

The post Gobi Partners Hadirkan Investasi Meranti untuk Bantu Pendanaan Seri B dan C pada Startup appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi