MDI Ventures: Startup Butuh Bantuan Perusahaan Besar untuk Berkembang


Ikhtisar
  • Asia Tenggara, termasuk Indonesia, diprediksi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia selanjutnya setelah Cina, Amerika Serikat, dan India.
  • Biaya untuk menjalankan bisnis semakin besar, sehingga startup perlu bekerja sama dengan perusahaan besar untuk terus berkembang.

Pada 9 Agustus 2017 lalu, MDI Ventures merilis sebuah laporan terkait pandangan mereka terhadap ekosistem startup di Indonesia. Dalam laporan berjudul Bits by Bricks itu, modal ventura milik Telkom tersebut merangkum beragam masalah yang dihadapi oleh para startup tanah air dan bagaimana mereka mengatasi masalah tersebut.

Berikut adalah beberapa hal menarik yang disebutkan di dalam laporan dari MDI Ventures itu.

Masa depan yang menjanjikan

peta indonesia | featured image

Menurut MDI Ventures, saat ini banyak pengamat yang memprediksi Asia Tenggara sebagai pusat perkembangan ekonomi dunia selanjutnya, setelah negara-negara seperti Amerika Serikat, Cina, dan India. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 260 juta jiwa, Indonesia tentu merupakan pasar utama di Asia Tenggara.

Hal ini didukung dengan jumlah penduduk muda berusia di bawah 30 tahun yang mencapai 52 persen, jumlah penduduk kelas menengah yang mencapai 150 juta jiwa, dan penetrasi internet yang semakin meningkat.

“Saat ini, Indonesia merupakan target pasar utama bagi para startup dan VC. Tidak hanya yang berasal dari Asia Tenggara, namun juga dari negara-negara lain seperti Cina, India, Jepang, dan Australia,” jelas MDI Ventures dalam laporannya.

Beberapa masalah yang harus dihadapi

Karyawan Bermasalah | Featured

Sayangnya, Indonesia juga menyimpan beberapa masalah. Masyarakat di tanah air saat ini masih belum terbiasa dengan metode pembayaran lewat kartu kredit atau dompet digital. Mereka pun cenderung menyukai barang dengan harga murah, sehingga sulit untuk membuat mereka setia dengan sebuah layanan.

Tingkat kemudahan mendirikan bisnis di Indonesia pun masih rendah. Pada tahun 2016 lalu, World Bank menempatkan Indonesia di peringkat ke 91 dalam hal kemudahan bisnis.

Biaya mahal untuk bisa tumbuh

Berdasarkan data Tech in Asia, ada sekitar 53 startup yang berhasil mendapatkan pendanaan tahap awal pada tahun 2017. Namun hingga pertengahan tahun ini, hanya ada 29 startup yang berhasil mendapat pendanaan Seri A. Beberapa pihak pun menganggap bahwa Indonesia tengah berada dalam tahap yang disebut series A crunch.

“Kami bisa menyebut ini sebagai crunch, namun tren ini merupakan sesuatu yang normal dan terjadi di seluruh dunia. Menurut kami, salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah kian mahalnya biaya yang dibutuhkan untuk mendirikan sebuah perusahaan dan mengembangkannya,” jelas MDI Ventures.

Menurut mereka, platform mobile kini telah dikuasai oleh Google, Facebook, dan Apple sehingga sulit untuk ditembus. Kompetisi di media iklan digital pun kian meningkat, yang hanya berujung pada peningkatan pendapatan bagi Facebook dan Google. Pemberian diskon juga menjadi salah satu alternatif untuk menarik pengguna di tanah air, namun hal itu juga membutuhkan biaya yang besar.

Akuisisi Startup Indonesia | Screenshot

Beberapa akuisisi yang terjadi pada startup Indonesia (Sumber: Laporan Bits by Bricks MDI Ventures)

“Bagi startup yang berhasil tumbuh, mereka pun mengalami kesulitan untuk bisa exit. Jarang sekali ada startup yang bisa masuk bursa saham (IPO) di Asia Tenggara. Dan selama delapan tahun terakhir, hanya ada 37 startup Indonesia yang berhasil exit setelah diakuisisi perusahaan lain.”

Kerja sama startup dan perusahaan besar

Untuk mengatasi berbagai masalah di atas, MDI Ventures berpendapat kalau para startup hanya bisa mencapai potensi terbaiknya dengan memanfaatkan infrastruktur dan akses ke pasar yang dimiliki oleh para perusahaan besar.

Dan menariknya, beberapa perusahaan tanah air pun memang telah menunjukkan ketertarikan mereka kepada bisnis startup teknologi. Hal ini ditunjukkan oleh investasi GDP Ventures milik Grup Djarum kepada Garena (sekarang bernama Sea), serta investasi Grup Lippo kepada Grab. Grup konglomerat lain seperti Sinar Mas dan Emtek pun telah membangun lembaga investasi khusus untuk startup.

“Seiring berkembangnya pasar, kami percaya akan ada lebih banyak kerja sama yang terjadi antara startup dan perusahaan besar di kemudian hari,” ujar MDI Ventures dalam laporan tersebut.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

The post MDI Ventures: Startup Butuh Bantuan Perusahaan Besar untuk Berkembang appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi