5 Tren E-commerce Asia Tenggara yang Bisa Kamu Temukan di 2019

Geliat bisnis e-commerce di Asia Tenggara pada tahun lalu berhasil melampaui banyak prediksi dari berbagai pihak, termasuk laporan e-Conomy 2018 dari dari Google dan Temasek.

Namun seiring bergantinya tahun ke 2019, banyak prediksi baru mulai bermunculan. Berikut sejumlah hal yang bisa kamu harapkan akan terjadi di bidang e-commerce pada tahun ini, menurut para ahli.

Negara yang paling menarik bagi sektor e-commerce

Para analis yang dikontak oleh Tech in Asia menyatakan tertarik dengan prospek pertumbuhan di Indonesia dan Vietnam.

Data firma riset pasar Forrester menunjukkan bahwa Indonesia membukukan US$7,6 miliar (sekitar Rp106 kuadriliun) penjualan ritel online tahun lalu, atau mencakup sekitar 41 persen dari total penjualan online Asia Tenggara. Vietnam berada pada posisi kedua, dengan penjualan ritel online sebesar US$2,8 miliar (sekitar Rp39 kuadriliun).

Penjualan retail online 2018

Sumber: Forrester

Santitarn Sathirathai selaku Group Chief Economist dari Sea, perusahaan berbasis internet asal Singapura, menyebut Indonesia sebagai “pasar paling menarik”. Ada alasan yang membuat ia yakin dengan hal ini: berdasarkan data yang terkumpul selama event 12.12 Shopee, anak perusahaan Sea, 5,4 juta dari total 12 juta pesanan yang diterima platform e-commerce tersebut berasal dari Indonesia.

Pendapat ini juga sejalan dengan laporan untuk periode liburan yang dirilis Meltwater. Laporan tersebut menyatakan 57 persen percakapan online tentang hari-hari promosi di Asia Tenggara, seperti Single Day dan Black Friday, berasal dari Indonesia. Sebaliknya, Singapura hanya mempunyai 1,2 persen keterlibatan sosial.

Volume engagement sosial media

Sumber: Meltwater

Simon Wintels, partner di perusahaan konsultan raksasa McKinsey & Company, juga bertaruh untuk Indonesia. Penelitiannya memproyeksikan sektor e-commerce Indonesia bakal tumbuh hingga delapan kali lipat dari 2017 hingga 2022, melonjak dari angka penjualan US$8 miliar (sekitar Rp112 kuadriliun) menjadi US$55-65 miliar (Rp771-911 kuadriliun) .

Ia juga berpendapat bahwa pasar Vietnam cukup menarik. “[Negara ini] tiba pada kondisi di mana bisnis e-commerce sudah cukup besar, dan kendala pada urusan logistik masih menantang, seperti di Indonesia.”

Namun, Matthew Doull sebagai Managing Director BDA Partners (konsultan investasi perbankan) berpendapat bahwa Vietnam akan unggul pada tahun 2019. Ia menyebut beberapa faktor: demografi penduduk berusia muda dan penghasilan yang diterima penduduk Vietnam berjumlah lebih banyak.

Laporan dari pemerintah Vietnam yang dirilis pada Oktober menyatakan pendapatan rata-rata bulanan di negara tersebut naik lebih dari sepuluh persen pada tahun 2017. Ini berarti para konsumen punya daya beli yang lebih tinggi, menjadikan mereka target situs e-commerce.

Doull juga menyatakan bahwa lanskap Vietnam secara geografis lebih mudah dihadapi. Negara tersebut terletak pada satu daratan yang terbentang luas, dibanding Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau terpisah-pisah.

Menurutnya, masyarakat Indonesia di daerah pedesaan akan sulit berpartisipasi dalam bisnis e-commerce. “[Indonesia] punya pasar yang lebih potensial dari Vietnam, tapi saya pikir untuk kota lapis kedua di pedesaan Vietnam akan lebih cepat berpartisipasi dalam pertumbuhan dan ledakan ekonomi, daripada kota sejenis atau daerah pedesaan di Indonesia.”

Lebih banyak hiburan untuk melibatkan para pelanggan

Retail offline mulai menawarkan lebih banyak pengalaman berbelanja baru, seperti toko tanpa kasir dan augmented reality (AR). E-commerce juga mengikuti pola ini—tren yang semakin kentara pada 2018.

Banyak inisiatif yang lebih inovatif dan kreatif dilakukan oleh beragam platform e-commerce untuk membuat para konsumen lebih bersemangat menyambut masa-masa promo.

Jeremy Chew,
Head of Content Marketing iPrice

Shopee, misalnya, meluncurkan beberapa game dan aplikasi baru di dalam aplikasinya: Shopee Shake pada bulan Juni, Shopee Slice untuk hari promo “Orange Day” pada Oktober, dan Shopee Quiz untuk event 12.12.

Di lain pihak, Lazada yang telah diakuisisi Alibaba, tahun lalu untuk pertama kalinya mengadakan 11.11 Super Show Lazada yang disiarkan langsung dari Kuala Lumpur. Para penonton dapat mengikuti hitungan mundur langsung acara dan berkesempatan mendapat hadiah dengan berpartisipasi dalam game Lazada Shake It dan Slash It. Ada juga pertunjukan oleh selebritas lokal dan internasional.

Meski ada aksi serupa di Cina—terutama dari Alibaba—ini adalah pertama kalinya para pemain kawasan Asia Tenggara menunjukkan upaya mereka. Kita bisa berharap menikmati pertunjukan yang lebih besar selama 2019, ungkap Chew.

Doull sepakat bahwa konsep gamification merupakan cara untuk maju,Saya pikir akan ada platform e-commerce yang lebih sering menerapkan konsep gamification. Mungkin cara memilih pakaian bisa geser ke kiri dan kanan. Akan terus ada banyak perkembangan untuk membuat layanan lebih lancar, mudah digunakan, dan makin menyenangkan untuk mendorong orang membeli barang secara online.”

Memperdalam hubungan dengan para penjual

Pada tahun 2019, perusahaan-perusahaan e-commerce Asia Tenggara diprediksi akan lebih banyak berinvestasi pada mitra penjual masing-masing.

Para pemain besar sudah mulai menawarkan dukungan bagi para penjual mereka. Shopee punya inisiatif berupa Universitas Shopee, sementara e-commerce asal Indonesia, Tokopedia, membuka Universitas Tokopedia. Tahun lalu, Bukalapak juga menyelenggarakan event bernama “Belajar Jualan dengan Komunitas”. Lazada, selain Universitas Lazada, juga menyediakan layanan marketplace yang memungkinkan penjualnya membeli jasa seperti fotografi, pemasaran, dan desain toko.

Pada tahun ini, para pemain e-commerce kemungkinan akan menawarkan layanan yang unik daripada hanya sekadar pelatihan sederhana.

Sathirathai dari Sea mengatakan para penjual menganggap platform sebagai partner digital mereka. “Kata ‘partner’ sangat penting di sini, karena bukan hanya tentang memasang informasi produk secara online dan mengampanyekannya. [Perusahaan e-commerce] juga dapat menjadi partner berpikir, membagikan hasil analisis, dan membantu pemahaman tentang pasar di wilayah tersebut.”

Lazada dan Shopee sudah memulai lebih awal. Lazada bermitra dengan startup fintech Finaxar pada Agustus lalu menawarkan pinjaman bagi para merchant. Shopee juga mulai menyediakan para merchant data penjualan pada hari-hari libur nasional seperti hari Natal—membantu para vendor memperkirakan potensi permintaan.

Pembayaran digital masih jadi kendala

Laporan gabungan oleh Google dan Temasek menyebutkan tantangan di bidang pembayaran digital sebagai halangan bagi ekonomi internet di Asia Tenggara. Laporan ini menunjukkan kurang dari lima puluh persen pengguna internet di Asia Tenggara menggunakan pembayaran digital. Angka ini bisa sangat rendah hingga hanya 1 dari 4 pengguna di Vietnam dan 1 dari 5 pengguna di Filipina.

Adopsi layanan pembayaran digital

Sumber: Laporan e-Conomy SEA 2018 oleh Google and Temasek

Doull dari BDA dan Wintels dari McKinsey juga sepakat mengenai proses adopsi massal pembayaran digital yang masih panjang.

“Teknologinya sudah ada,” ujar Wintel. “Saya pikir proses edukasi dan membangun kepercayaan para konsumen akan memakan lebih banyak waktu.”

Meski begitu, bagi Chew dari iPrice, masih terdapat masalah lain di luar adopsi e-payment. Ia mencontohkan kesulitan yang muncul akibat kondisi infrastruktur Malaysia baru-baru ini. Pada event promo 11.11 atau Single Day, e-tailer besar seperti Shopee, Lazada, dan 11street mengalami masalah dengan sistem pembayaran di negara ini pada tengah malam.

Para pelanggan yang melakukan pemesanan di Shopee memiliki tagihan yang tercatat di rekening bank mereka, tapi tidak pada platform Shopee. Lazada mengalami kesulitan memproses pembayaran, mengakibatkan para pelanggannya tidak dapat membeli produk.

Kedua perusahaan tersebut merilis pernyataan terhadap masalah ini. Shopee menyatakan ada masalah dengan sistem pembayaran mereka, yang menautkan situs web dengan bank mitra. Kejadian tersebut mirip dengan kasus di Lazada, meski pernyataan perusahaan (yang kemudian dihapus dari Facebook) juga mengatakan masalah muncul karena volume pesanan “membebani infrastruktur pembayaran Malaysia”.

Shopee Malaysia

Pernyataan dari Shopee Malaysia yang dirilis di laman resmi Facebook mereka

Chew mengatakan hal ini memberi kesempatan bagi para pemain e-commerce untuk bekerja lebih erat dengan penyedia layanan pembayaran dan menggunakan big data dalam mempersiapkan event promo tahun ini.

Cina makin terbuka dan mulai menjangkau Asia Tenggara

Pengaruh Cina terhadap Asia Tenggara sedang tumbuh, terutama dengan meningkatnya investasi di kawasan ini. Alibaba misalnya, yang menambah kepemilikan saham di Lazada dan Tokopedia.

Tidak hanya Alibaba, menurut Forrester, perusahaan raksasa teknologi Cina berinvestasi lebih dari US$ 8 miliar (sekitar Rp112 kuadriliun) dalam transaksi merger dan akuisisi di Asia Tenggara.

Sumber: Forrester

Perusahaan-perusahaan Cina tak hanya mengincar pasar Asia Tenggara. Mereka juga membuka rute perdagangan untuk mengizinkan layanan asing menjangkau konsumen Cina.

Pada Desember, perusahaan asal Cina JD bermitra dengan pemerintah Thailand untuk meningkatkan hubungan dagang kedua negara. Kesepakatan ini termasuk di antaranya membantu para pedagang Thailand dengan ritel, pengiriman, wawasan bisnis, dan pembayaran online. Alibaba juga punya inisiatif serupa pada awal 2018. Menurut Wintels, ini mungkin berarti bahwa Cina berupaya membuka cabang sebagai pasar permintaan.

“JD mengumumkan kerja sama dengan Thailand yang memungkinkan para pedagang di sana menggunakan platform mereka untuk berjualan ke konsumen Cina. Saya pikir hal ini akan membuka lebih banyak kesempatan di Thailand,” ujar Wintels. “Saya pikir kamu juga akan melihat hal serupa sekarang mengingat Alibaba secara signifikan berinvestasi di Indonesia.”

Doull juga menyebutkan ketegangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dengan Cina mempermudah perusahaan asing untuk masuk. “Bukan tidak mungkin kamu akan melihat perusahaan Jepang, Korea Selatan, atau bahkan India diberikan akses lebih besar untuk masuk ke pasar Cina.”

Meski Cina mulai terbuka, CEO penyedia solusi e-commerce lintas batas Azoya Group, Don Zhao, menyatakan regulasi juga jadi makin ketat. Peraturan e-commerce yang menyeluruh di Cina mulai berlaku sejak Januari 2019, dan ini merupakan perkembangan signifkan.

“Sementara pajak impor untuk perdagangan e-commerce lintas negara perlahan-lahan turun, bertambahnya peraturan bagi situs e-commerce akan mendorong peningkatan biaya.”

Efeknya akan paling terasa oleh para penjual individu di aplikasi sosial seperti WeChat atau Duoyin. Di bawah undang-undang e-commerce yang komprehensif, penjual perorangan sekarang harus tunduk pada norma kepatuhan, termasuk membayar pajak penghasilan dan membuat lisensi bisnis. Ini juga akan berlaku untuk layanan jasa titipan atau pasar yang bersifat “abu-abu”.

Zhao mengatakan, bisnis e-commerce lintas negara perlu menyetok barang-barang dagangannya dari lokasi yang lebih dekat dari tempat operasionalnya agar tetap berkelanjutan. “Itu berarti rantai logistik untuk produk-produk yang dipasok dari luar negeri harus lebih dekat dengan pelanggan dari perspektif e-commerce, jika tidak, kamu kehilangan keunggulan kompetitif dalam persaingan dengan bisnis offline atau perdagangan tradisional,” katanya.

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Fairuz Rana Ulfah sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post 5 Tren E-commerce Asia Tenggara yang Bisa Kamu Temukan di 2019 appeared first on Tech in Asia.

The post 5 Tren E-commerce Asia Tenggara yang Bisa Kamu Temukan di 2019 appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi